Pertemuan Perdana Pagupon Palupi

oleh : Kombor
Pagupon Palupi (Paguyuban Minggu Pon Pahargyan Luhur Pambudi) telah menorehkan sejarah untuk pertama kalinya mantan-mantan penggiat teater Sopo FISIP UNS berkumpul dalam suatu wadah yang diawali dengan arisan. Mungkin ini menjadi satu-satunya arisan mantan penggiat teater kampus di dunia.
Dengan semangat membangun kebersamaan dan niatan yang baik untuk menjalin silaturahim dan membina hubungan sosial yang lebih baik. Akhirnya pada tanggal 29 Juni 2008 kemarin telah diawali dengan satu pertemuan di rumah sdr Kombor di belakang UNS. Acara tersebut berlangsung mulai jam 10.00 WIB sampai dengan sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB dari pertemuan pertama tersebut terbentuk sebuah kepengurusan yang sederhana dari Pagupon Palupi ini. M Rifai Latief (Pa’i) sebagai koordinator, Suyanto (Kombor) sebagai sekretaris dan Nur Apriyana (Yana) di percaya sebagai bendaharanya.
Banyak usulan yang mengharapkan kegiatan ini akan berkembang lebih baik lagi dengan berbagai macam usaha yang dapat membantu anggotanya. Usulan-usulan tersebut diantaranya membentuk yayasan, membentuk koperasi, memberikan simpan pinjam dengan bunga kecil, dan melakukan kegiatan-kegiatan sosial untuk masyarakat yang sedang membutuhkan. Semua usulan itu akan terus di bahas tentang kemungkinannya di masa depan. Akan tetapi yang semua sepakat bahwa kegiatan diharapkan akan terus dapat berjalan secara rutin terlebih dahulu.


(TeJe)

Pada pertemuan awal tersebut ditetapkan bahwa anggota arisan Pagupon Palupi saat ini berjumlah 20 orang. Dan setiap bulannya akan di gilir secara bergantian untuk tempat penyelenggaraanya. Pada pertemuan mendatang ditetapkan tanggal 3 Agustus 2008 bertempat di Rumah Tunjung (TeJe) di daerah Wedi, Klaten. Acara akan dimulai pada pukul 10.00 WIB ( kalau tidak ada perubahan waktu dan tempat)

Pertunjukan Teater : Antara Prosesi Onani dan Media Komunikasi


Oleh: Setyo Andi Saputro

Sebuah kejadian bisa dikatakan sebagai ‘peristiwa teater’ hanya jika melibatkan penyaji, tempat, dan penonton. Secara terbalik juga bisa disimpulkan, peristiwa ‘apapun’ yang melibatkan keberadaan tiga elemen tersebut, langsung bisa dikatakan sebagai sebuah ‘peristiwa teater’. Namun perlu digarisbawahi, bahwa yang akan dibahas disini lebih dikerucutkan pada salah satu peristiwa teater yang secara umum sudah kita akrabi, yaitu ‘pertunjukan teater di atas panggung’.

Seperti yang sudah disinggung di atas, ketiga faktor tersebut adalah hal mutlak yang harus ada (sebagai syarat untuk disebut sebagai peristiwa teater, termasuk pertunjukan teater). Namun bisa dikatakan, ketiganya bukanlah satu-satunya. Karena bagaimanapun ada hal-hal lain yang tak boleh dikesampingkan dalam proses penciptaan karya pertunjukan teater. Salah satunya adalah keberadaan ‘pesan’.

Bagaimanapun juga, pertunjukan teater bukanlah sekedar geliat tubuh dan ceracau para aktor yang tak mempunyai makna apa-apa. Pertunjukan teater (seharusnya) tak jauh beda dengan besi konduktor yang menjadi media penghantar panas. Namun apa jadinya jika sebuah pertunjukan teater hanya sekedar menjadi prosesi onani yang hanya memuaskan satu pihak (yaitu pihak penyaji) saja? Hal semacam inilah yang seringkali kita temukan di gedung-gedung pertunjukan. ‘Penonton’ yang seharusnya mempunyai hak sama untuk bisa mendapatkan sesuatu dari sebuah pertunjukan, kadangkala terlupakan oleh para kreator.

Betapa sering kita temui kelompok-kelompok teater yang terlalu sibuk mengeksplorasi sisi artistik, namun justru melupakan niat awal yang mendasari mereka untuk menggelar pertunjukan, yaitu ‘menyampaikan sebuah pesan’. Tak jarang sebuah pementasan yang ‘indah’ dari sisi artistik, dramaturgi, dan keaktoran, namun terlihat gagap dalam usaha ‘pengiriman pesan’. Padahal (dalam pertunjukan teater), keberadaan pesan seharusnya justru ditempatkan di atas elemen-elemen yang lain. Karena bagaimanapun, teater adalah sebuah media komunikasi. Dimana kreator (kelompok teater) mengemban tugas menyampaikan sebuah pesan kepada komunikan (penikmat).

Memang tak dapat disangkal, masalah sampai atau tidaknya sebuah pesan, tak semata tanggung jawab sang kreator. Frame of reference dan field of experience komunikan, juga mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan proses penangkapan pesan ini. Namun adalah sesuatu yang mustahil ketika kita ingin merubah / memperbaiki / memberi saran terhadap pola pikir audience yang sedemikian banyak. Yang masih (agak) mungkin dilakukan adalah memberi masukan untuk para kreator, agar mempertimbangkan ‘bagaimana cara menyampaikan pesan-pesan, sekaligus meminimalisir kemungkinan ‘kegagalan’ proses tersebut.

Lalu sebenarnya apa yang mendasari lahirnya hal semacam itu? Entahlah. Namun yang pasti, saat ini banyak seniman-seniman egois yang hanya mengejar kepuasan pribadi mereka sendiri, tanpa mempedulikan ‘hak penonton’ yang harusnya mereka penuhi. Sehingga yang terjadi pertunjukan teater tak lebih dari ajang curhat sang seniman tentang sebuah tema, yang tak mempunyai relevansi apapun dalam merubah situasi.

Hal semacam inilah yang (mungkin) menjadi kegelisahan Prita Kemal Gani. Pada pertengahan Januari lalu, Direktur salah satu sekolah komunikasi di Jakarta ini membidani kelahiran jurusan Performing Arts of Communication di lembaga yang dipimpinnya. Berbeda dengan jurusan teater di insitusi pendidikan seni semacam Institut Kesenian Jakarta atau Institut Seni Indonesia, jurusan di sekolah ini lebih mengedepankan ‘teater sebagai sebuah media komunikasi’. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa lembaga ini memang bukan sebuah institusi pendidikan seni, melainkan sekolah komunikasi.

Lalu apakah kelahiran teaterawan dari lembaga semacam ini akan merusak tatanan pertunjukan teater oleh ‘seniman teater murni’? Tentu saja tidak. Justru dengan adanya lembaga belajar (resmi) dengan metode semacam ini, sedikit banyak akan memberi sebuah sapuan warna lain dalam jagat perteateran negeri kita, dimana banyak diantaranya yang semakin mengesampingkan ‘sampai tidaknya sebuah suara’.
(Dengan catatan, jika memang ada hal yang ingin disuarakan.)

Semarang 15 Juni 2008

Pimpro Pentas Produksi 2008


Pada hari Jumat tanggal 13 Juni 2008 telah diadakan rapat anggota teater sopo. Rapat bertempat di boulevard UNS dan dimulai pada kira-kira pukul 20.30 WIB.


Namun sayang sekali karena ternyata jumlah anggota yang dapat hadir "tak lebih banyak dari jumlah pengurus". Tetapi kemudian itu bukanlah merupakan suatu kendala karena yang terpenting pada malam hari itu adalah terpilihnya seorang pimpinan produksi untuk pentas produksi tahun ini.


Setelah alot dalam perdebatan tentang siapa yang akan menjdi pimpro akhirnya mencuat dua nama yaitu Putra dan Nopex. Mereka masing-masing bersedia menjadi pimpro kali ini.


Kemudian mulailah mereka memusyawarahkan akan hal ini, hasil yang diperoleh adalah melalui voting bahwa Nopex (Kom 2006) adalah pimpro pentas produksi teater sopo 2008.


" Untuk langkah-langkah selanjutnya akan saya segera koordinasikan ke temen-temen untuk menyusun team produksi" kata Nopex setelah ia terpilih sebagai pimpro.
Selamat dan semoga sukses!!! Semangat....!!!!


Matinya Seorang Aktor

Oleh: Setyo Andi Saputro

Bilakah seorang aktor bisa dikatakan ‘berhasil’? Merujuk pada hukum tak tertulis yang berlaku di kalangan teaterawan, ada sebuah cara sederhana yang bisa dijadikan indikator berhasil tidaknya seorang aktor. Indikator ini bisa diterapkan ketika pementasan sudah selesai digelar. Bilamana ketika (mantan) penonton masih mengenali sang aktor sebagai salah satu pemeran dalam pementasan, namun tidak ingat dengan karakter yang dibawakan, maka bisa diasumsikan bahwa aktor tersebut telah gagal. Karena aktor jenis ini, ternyata tak sanggup menjadi ‘sosok lain’ ketika di atas panggung. Begitu pula sebaliknya, ketika (mantan) penonton masih ingat benar dengan salah satu karakter dalam pertunjukan, namun tidak mengenali aktor yang memerankannya (meski penonton tersebut bertemu langsung dan berbicara dengan sang pemeran), bisa dikatakan aktor jenis ini adalah aktor yang berhasil. Karena dirinya benar-benar mereduksi segala sesuatu tentang dirinya, dan beralih rupa menjadi karakter tokoh yang diperankannya.

Metode penilaian semacam ini didasarkan pada makna dasar dari kata ‘aktor’ itu sendiri. Dimana kata aktor, berasal dari sebuah kosakata bahasa inggris ‘actor’ (turunan dari kata act yang artinya memainkan peran/berpura-pura). Dari pemahaman ini bisa disimpulkan bahwa seorang aktor; entah dalam pementasan teater maupun film; sebenarnya (dan mungkin juga seharusnya) adalah seseorang yang (hanya) berpura-pura memerankan seorang tokoh dalam naskah (yang tentu saja, bukan dirinya sendiri). Atau dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa seseorang yang tidak memerankan karakter lain selain dirinya (meliputi gesture, cara bicara, sikap, sifat, ekspresi muka, dsb) dalam sebuah pementasan, bukanlah seorang aktor sejati.

Namun rupanya teori semacam ini tidak serta merta dipahami semua orang, bahkan juga oleh mereka yang sekian lama berkecimpung di dunia seni peran. Seperti yang termuat dalam sebuah berita di situs Kompas.Com, dimana dikatakan bahwa saat ini casting pemain untuk film Ketika Cinta Bertasbih (diangkat dari novel berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy) sudah dimulai. Namun begitu konon ada sebuah perbedaan mendasar yang masing-masing diyakini oleh para juri yang terlibat dalam proses audisi tersebut. Yaitu perbedaan pendapat antara Didi Petet dan Neno Warisman. Bisa dikatakan keduanya adalah sedikit diantara aktor & aktris senior negeri ini, yang sebagian besar hidupnya dihambakan pada dunia akting.

Didi Petet yang notabene adalah aktor dari lingkungan akademis berpendapat, bahwa dalam proses audisi ini yang terpenting dan paling mutlak dipenuhi hanyalah satu hal, yaitu ‘kemampuan akting’. Namun pandangan itu berbeda dengan pemikiran Neno Warisman. Aktris yang juga seorang ustadzah ini mempunyai pemikiran, bahwa selain kemampuan akting para peserta audisi yang nantinya terpilih haruslah sosok yang mempunyai karakter mirip dengan tokoh yang nanti akan diperankan. Alasannya adalah karena film ini dikategorikan sebagai film dakwah. Dan karenanya, diharapkan aktor yang terlibat di dalamnya bisa merepresentasikan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita. Karena bagaimanapun, mereka nantinya diharapkan menjadi sosok panutan bagi para penonton yang mereka sasar. Dan jika disesuaikan dengan naskah film ini, bisa disimpulkan bahwa peserta audisi yang nanti terpilih (oleh Neno Warisman) adalah mereka yang agamis dan mempunyai karakter (asli) yang layak untuk dijadikan panutan.

Tepat titik inilah yang bisa dikatakan sebagai fase kematian seorang aktor. Dimana aktor tak lagi diharuskan berproses dalam usaha alih rupa menjadi sosok lain yang bukan dirinya, melainkan hanya diijinkan bertindak sebagai wayang sesuai karakter asli pribadinya. Jika hal ini yang terjadi, bukankah bisa dikatakan bahwa aktor telah mati?


Semarang 8 Juni 2008

Nona Kim

oleh : Hendro Prabowo

Bagi George W. Bush, wujud teror adalah Islam radikal. Bagi Osama bin Laden, wujud teror adalah Zionisme. Bagi Teater SOPO, wujud teror adalah Nona Kim. Nona Kim ? Bukankah ada banyak hal yang bisa menimbulkan rasa takut pada setiap anggota teater selain, siapa itu tadi, Nona Kim ? Seperti tidak adanya ijin pentas dari pihak yang berwenang. Atau tidak adanya dana untuk pentas. Hal – hal seperti itu jelas momok yang menakutkan dibandingkan dengan Nona Kim. Who the hell is Nona Kim ?
Dulu kala pernah ada anggota teater yang bernama Tholo. Mahkluk satu ini memang dilahirkan untuk ngawur, natural born ngawur. Suatu ketika, si Tholo ini kumat dalam hal pembuktian keeksistensian ngawurnya. Dengan cara apa ? Dengan cara membuka lebar – lebar pintu komunikasi dari dan ke dunia mahkluk halus. Dan tentu saja tempatnya di sekretariat Teater SOPO. Di mana lagi ? ( Begitu pikirnya kala itu ) Walhasil, singkat cerita, Tholo sekarang sudah sukses berada di Mbetawi sana. Dan di Gudang Teater SOPO juga sukses mempunyai penghuni tetap berwujud mahkluk halus yang mempunyai nama Nona Kim.
Seperti halnya Tholo, Nona Kim juga haus dalam pembuktian keeksistensian. Dia sering menampakan diri, membuat suara – suara seram, menebarkan aroma harum dan fenomena penampakan lainnya. Cuma bedanya kalau Tholo sukanya ngawur, Nona Kim lebih tertata. Nona Kim lebih suka mengeluarkan fenomena penampakannya hanya jika kreatifitas Cah SOPO lagi mandeg.
Ketika tak ada proses berkreatifitas di lingkungan sekretariat Teater SOPO, Nona Kim akan menampakan dirinya. Ketika kesunyian menghinggapi sekretariat, Nona Kim membuat suara seram. Ketika sekretariat hanya diisi oleh orang – orang yang melamun, Nona Kim menebarkan bau bunga Kanthil. Begitu seterusnya, tapi, Nona Kim tidak akan menampakkan wujudnya jika ada proses kreatifitas sekecil apa pun di lingkungan sekretariat.
Nona Kim memang bukan wujud hantu seperti kolor ijo, atau pun hantu – hantunya Goenawan Mohamad dalam “ Santeto – fobia .” Tapi lebih kepada petanda akan adanya kemiskinan kreatifitas di tubuh Teater SOPO. Dan seperti bagaimana laiknya sebuah tanda, dia boleh untuk ditafsirkan ulang.

Motivasi Marah : Ya… Marah

oleh : Hendro Prabowo

Suatu malam di sebuah warung susu sapi segar, Om Yan sedang marah – marah. Om Yan adalah pemilik bengkel Oge ( Oedoek Guedhi alias Moge ) terkenal di Kota Solo. Om Yan adalah orang yang sangat disiplin dalam menjalani hidupnya. Anak – anaknya sukses semua. Bahkan ada yang jadi direktur di sebuah perusahaan asing. Hidup Om Yan yang dulu keras, sekarang sudah more than lumayan. Tapi hebatnya Om Yan tetap hidup sederhana. Nah, malam itu Om Yan lagi marah – marah.
Marahnya tidak tanggung – tanggung, pakai acara misuh – misuh segala. Mulai dari sato iwen sampai pisuhan yang paling merendahkan martabat manusia keluar dari mulutnya. Dia marah terhadap segala hal yang tidak beres jalannya. Mulai dari pemerintahan sampai ke para pedagang. Dari masalah perburuhan hingga ke perpolitikan. Tapi ajaibnya, sambil marah dia tidak lupa terhadap hidangan didepannya.
Dengan intonasi suara yang kencang dan tinggi, raut muka yang kereng, dia memarahi pemerintahan yang tidak becus, anggota dewan yang korup, pedagang yang licik, demonstran bayaran, LSM provokator, mahasiswa malas. Kemudian jeda, mak lhep, sosis bakar itu masuk ke dalam mulutnya. Sambil mencucu karena mulut masih penuh makanan dia menyemprot salah satu pengunjung yang mulai merokok. Rokok adalah produk neo kolonialisme, kemudian dia marah terhadap penindasan buruh oleh pemodal, cengkraman modal asing, BUMN yang diobral, BBM naik tinggi, neo liberalisme, tanah air yang masih dijajah asing. Jeda, mak sruput, STMJ itu masuk dalam kerongkongannya.
Sambil mengusap sisa susu yang menghias kumisnya, dia melanjutkan marah – marahnya. Dan tentu saja dihiasi dengan kata – kata pisuhan. Tak seorangpun menanggapi amarah Om Yan. Para pengunjung warung tersebut sudah terlanjur takjub. Paling – paling cuma nyenggaki sebentar. Belum habis rasa takjub ini, Om Yan sudah pamit minta pulang. Lalu mak klepat, dia sudah mengayuh sepeda anginnya yang butut.
Ketika rasa takjub sudah reda, segera saja si pemilik warung ditanyai tentang motivasi marah dari Om Yan. Si pemilik warung cuma nyengir sambil berkata, “ Om Yan itu ya seperti itu. Sukanya marah – marah. Marahnya Om Yan kok pake motipasi. Marah, ya marah. “ We lha dalah, marah kok tidak pakai motivasi. Stanislavsky bisa bangkit dari kuburnya kalau mendengar itu. Marah kok nggak pake motivasi…

Copyright © 2008 - Teater Sopo - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template