Orde Tabung


Latif & Eni

Pagi itu ramai canda mewarnai pertemuan beberapa orang alumni sopo. Mereka saling bertukar cerita dan mengenang kembali masa-masa ketika bersama-sama dahulu. Ya, pagi yang bahagia karena kita dapat berkumpul kembali dan melengkapi kebahagiaan itu, M Rifai Latief telah mempersunting gadis dari daerahnya tempat ia bekerja sebagai PNS, Sragen. Gadis yang menjadi pujaannya itu adalah Eni Woro Setyowati. Mereka berdua berikrar untuk mengarungi bahtera hidup berkeluarga bersama pada tanggal 21 Agustus 2008 di Sragen. Sedangkan acara ngunduh nganten-nya dilangsungkan tanggal 24 Agustus 2008 kemaren.

Mugi-mugi dados keluarga ingkang sakinah mawaddah warohmah....aminn.

Sensasi Merdeka Oleh Putu



Indonesia tidak akan pernah habis untuk dibicarakan. Negara dengan segunung masalah yang sebagian belum tersentuh ujung pangkalnya. Negara yang lahir lewat sekumpulan sejarah dan masa lalu yang banyak diungkit-ungkit lagi. Negara yang berkali-kali dijajah. Negara dengan segudang pertanyaan yang belum terjawab. Salah satu diantara banyak pertanyaan itu adalah : Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Sebagian orang tentu tak akan ambil pusing dengan pertanyaan yang tidak jelas untung ruginya bagi mereka. Tapi tentu tak semua orang bisa sadar dengan sebuah kenyataan yang seolah-olah maya : apakah kita sudah siap untukbenar-benar merdeka? Apakah kita sudah siapuntuk berlari jika telah merdeka? Apakah kita sudah siap untuk terbang tinggi jika sudah merdeka? Burung perkututpun akan merasa gamang untuk terbang melarikan diri saat pintu sangkarnya dibuka dengan sengaja oleh Sang Majikan.
Mungkin memang berbeda antara manusia dengan burung perkutut. Akan tetapi wacana itulah yang diangkat oleh Putu Wijaya pada pementasan monolog dengan judul “Merdeka” dalam rangka Sepekan Gelar Seni di Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta(12/8). Putu memaparkan dalam monolognya ( atau bisa disebut juga mendongeng ) bahwa dua pihak yang sepertinya sangat mustahil untuk paham dan mengerti tentang kemerdekaan justru mempertanyakan lewat dialog dan sikap tentang arti, makna, dan hakikat kemerdekaan. Yakni seorang cucu yang masih kecil dan seekor burung perkutut. Seorang cucu bertanya kepada kakeknya yang notabene adalah seorang mantan pejuang pada masanya, dan pertanyaan itu adalah : apakah benar kita sudah merdeka? Sang Kakek terhenyak dengan pertanyaan dari seorang yang tampak lugu di matanya. Dengan aneka ragam penjelasan yang mungkin akan sulit dimengerti oleh cucunya, kakek itu menjawab dengan bergetar disertai rasa ketersinggungan yang mendadak. Cerita yang lain menerangkan kisah seorang juragan perkutut yang hendak memberikan hadiah bagi burung perkutut yang sudah lama dipeliharnya. Hadiah itu tak lain adalah kebebasan atau kemerdekaan untuk Si Perkutut. Pintu sangkarpun dibuka oleh Sang Majikan. Tak dinyana, perkutut ini rupanya tak siap untuk merdeka. Dengan berbagai alas an, Si Perkutut yang telah terbiasa dipenjara dalam sangkar ini benar-benar telah menyatakan diri untuk tak siap merdeka.

Sebagian dari cerita yang diangkat oleh Putu Wijaya dalam monolognya seperti memberikan gambaran bahwa merdeka bukanlah kata putus yang bijak untuk dapat terus melanjutkan hidup. Baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa secara utuh. Merdeka hanyalah kata mula. Merdeka hanyalah sebuah pintu keluar dari penjara keterjajahan. Merdeka hanyaloah sebuah garis start dari sebuah perjalanan panjang dari pribadi, golongan, ataupun bangsa secara keseluruhan utnuk terus melajutkan hidup. Apakah lanjutan dari merdeka? Pertanyaan yang tentunya sederhana dengan jawaban yang semestinya tidak sederhana. Apakah cukup dengan kata syukur? Apakah cukup dengan perayaan dan peringatan? Apakah cukup dengan kerja keras? Belajar? Atau dengan mengungkap rahasia alam tanah air? Menyibak jawaban dari alam semesta Nusantara yang katanya kaya ini? Akan banyak jawaban yang muncul dengan beragam dari lebih 220 juta rakyat yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Entah jawaban getir, jawaban naïf, jawaban munafik, atau jawaban sekenanya. Yang jelas Indonesia sebagai bangsa maupun sebagai Negara seyogyanya akan terus belajar, bergerak, dan bekerja untuk membuktikan masih punya nyali untuk melajutkan hidup setelah merdeka. Atau sebagai pembuktian bahwa bangsa ini benar-benar telah merdeka.

Terlepas dari topik merdeka yang dibawakannya, Putu Wijaya sekali lagi telah memberikan pelajaran singkat bagi para aktor yang menyaksikan pertunjukan semalam. Meskipun menurut penulis, Putu sendiri adalah lebih sebagai seorang penulis. Sekali lagi perlu digarisbawahi : Putu Wijaya adalah benar-benar seorang penulis. Baru kemudian dia dikenal sebagai sutradara teater maupun film. Kemampuannya menulis diejawantahkan dalam pentas monolog yang berdurasi lebih kurang satu jam. Dengan kata lain, pentas monolg tadi malam adalah semacam show up dari seorang Putu Wijaya sebagai penulis. Sebuah proses penulisan yang dipentaskan dengan kata-kata dan kalimat spontan. Sebagian kawan menyebut Putu adalah seorang ahli bercerita atau berdongeng. Ini terutama sangat terlihat saat jatah durasi tersisa tujuh menit dan Putu memberikan “bonus” monolog singkat untuk penonton yang tadi malam terasa cukup bergairah menikmati sajian Putu. Kemampuan Putu menguasai teknik keaktoranpun diperlihatkan dengan kemampuannya mengendalikan dan melibatkan penonton dalam pementasan. Putupun secara tersirat juga mengajarkan hidup sehat bagi para seniman. Dengan usia yang telah memasuki 64 tahun, energi dan stamina seorang Putu Wijaya menguasai durasi 60 menit pertunjukan tunggal tak kalah dengan aktor-aktor yang lebih muda.
Merdeka Pak Putu !!!

Rudyaso Febriadhi
Solo, 13 Agustus 2008
foto : kombor



Polynices

oleh : Hedro Prabowo
Tahun ini, bulan Agustus bertepatan dengan bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa. Bulan yang paling cocok untuk nyekar, berziarah. Di bulan Ruwah, orang – orang akan pergi berziarah, apa pun landasan filsafat dan etikanya, apa pun alasan dan motivasinya. Berziarah ke tempat – tempat suci, ke makam para orang tua , sanak saudara dan mereka, para sahabat yang mati muda.
Maka tak heran ketika suatu pagi seorang kawan mengajak berziarah. Ke sebuah makam di daerah Karanganyar. Makam yang sepi. Keharuan seperti menggantung di udara. Makam siapa ? “ Seorang yang mati di tahun 48 “, begitu jawabnya. Seperti makam di Kediri ? Seperti Polynices ? “ Ya, hampir seperti Polynices “, katanya.
Hampir seperti Polynices. Seorang tokoh dalam Antigone, sebuah tragedi Yunani karya Sophokles. Sebuah karya sastra yang mendekati kesempurnaan. Tersebutlah satu masa ketika Thebes ditinggal mati oleh Oedipus. Eteocles, sulung dari Oedipus lah yang menggantikan Oedipus. Eteocles ternyata memerintah Thebes dengan tangan besi. Adiknya, Polynices ingin menyingkirkan Eteocles. Kedua bersaudara ini kemudian berperang satu dengan yang lainnya dan sama – sama gugur. Kemudian naiklah Creon, saudara Oedipus, sebagai pengisi singgasana Thebes. Creon ingin mengangkat Eteocles sebagai pahlawan dan mengutuk Polynices sebagai pengkhianat. Seorang pengkhianat tak boleh dikuburkan, mayatnya tergeletak begitu saja habis dimakan binatang buas. Antigone, putri Oedipus, kemudian menguburkan jasad Polynices secara layak apa pun taruhannya, bahkan nyawanya sekalipun.
Hampir seperti Polynices. Sebab yang terbaring pada dinginnya makam di Karanganyar dan Kediri itu bermaksud tidak melawan kuasa yang tiran. Tetapi melawan amnese, kelupaan total terhadap cita – cita luhur berdirinya negara ini. Tak mengapa kalau pada akhirnya mereka dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Revolusi memang memakan anaknya sendiri.
Sebelum pulang, sebuah pertanyaan terlintas di benak. Apakah mereka bersedia mati jika mengetahui kalau saat ini, negeri yang mereka cintai ini, menjadi sarang penyakit ? Tak tahu. Tapi yang pasti, kawan, jangan lupa untuk membuat pengharapan dan berdoa pada malam tirakatan. Sebelum bubur merah dan putih dihidangkan, sebelum nasi liwet dimakan. “ ...untuk Indonesia yang lebih baik…“

Uwek Main Musik

oleh : Hendro Prabowo

Tanpa musik hidup merupakan suatu kekeliruan. Begitu tulis Nietzsche dalam Senjakala Berhala. Itu bisa berarti jika kita menginginkan kebenaran selalu melingkupi hidup kita, maka kita harus hidup dengan musik. Atau juga bisa berarti “ kekeliruan “ yang bernama “ hidup “ itu akan menjadi benar jika kita mengenal musik. Secara praksis Konfusius menulis bahwa musik dapat memberi pangaruh baik maupun buruk pada pikiran dan karakter seseorang, dan bahkan pada masyarakat secara keseluruhan.
Mungkin itulah yang ada di benak Uwek ketika dia memutuskan untuk bermain musik dalam pentas Teater SOPO. Lha bagaimana tidak ? Sak jeg jumbleg, manusia satu itu hanya pernah bermusik sekali. Dan yang dimainkannya adalah alat musik bernama “ bedug “. Fals lagi mainnya. Lha kok ini dia das ein, mak bedhunduk, tiba – tiba bermusik ria. Pasti alasannya penuh dipenuhi dengan landasan filsafat yang rumit seperti yang disebutkan di atas tadi. Lha wong Uwek itu termasuk manusia progesif je.
Tidak jelas juga posisi Uwek dalam kelompok musik ini sebagai apa. Apakah memegang alat musik tabuh ? Sekedar urun suara pating gemremeng ? Atau seperti yang dikatakan oleh koordinator musik, Uwek nyekel cagakan mik, memegang tiang penyangga microphone. Lha wong namanya proses menemukan, ya sak kecekele. Kalau hari ini bisanya cuma nyekel cagakan mik ya mbok biar.
Uwek memang ingin berproses menemukan kebenaran melalui bermusik. Kebenaran yang bagi kita semua mahal harganya. Dapatkah Uwek mendapatkan kebenaran dengan bermusik ? Siapkah dia dengan kebenaran yang akan menampakan wujudnya kemudian membuka selubungnya ?
Tapi dalam Sains Girang, Nietzsche juga berkata bahwa kebenaran adalah perempuan. Ada sosok perempuan menarik hati di sana. Wajahnya merupakan perpaduan antara cantik dan manis, muda, penuh semangat dan sedang berproses. Jangan – jangan, Uwek sedang mencari kebenaran tidak lewat musik tapi melalui sosok perempuan. Jangan – jangan….

Memutuskan Pilihan

oleh : dwi marhaeni

Saat ini saya menjadi berpikir,
Apa saja kesempatan yang telah saya lewatkan....
Tepatkah keputusan-keputusan yang saya buat????

Saya yang tidak pernah puas, yang banyak maunya sementara kemampuan saya terbatas, ternyata sangatlah alamiah sebagai manusia. Sebagai manusia memang saya tidak dapat melakukan ataupun mendapatkan semua yang saya inginkan karena keterbatasan-keterbatasan tadi. Karena itu manusia dalam hidupnya harus menentukan pilihan. Yang jarang saya sadari adalah bahwa dalam semua keputusan yang sudah saya tentukan ternyata mengandung biaya atas kesempatan yang hilang (dalam konsep ekonomi: opportunity cost).

Sebagai manusia yang rasional, tentu saja pilihan ditentukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan, dengan membuat prioritas-prioritas. Dan tentunya juga pilihan tersebut merupakan yang terbaik (yang mengalahkan alternatif lain) menurut si pemilih. Kehilangan kesempatan atas pilihan lainnya yang terbaik ini lah si “opportunity cost” tadi. Saat ini saya sedang berpikir (mungkin terbalik), kesempatan apa yang hilang atas pilihan yang sudah saya buat, karena tidak jarang saya melakukan pilihan berdasarkan “feeling” atau “maunya saya saja”. Apakah saya bukan manusia yang rasional?

Misalnya saja, dengan memutuskan masuk ke dalam dunia teater saat menjadi mahasiswa baru di FISIP UNS. Waktu itu saya sama sekali tidak mempertimbangkan apa untungnya buat saya. Yang ada cuma “maunya saya saja” itu tadi. Nah, sekarang saya jadi berpikir... jangan-jangan keputusan itu tidak tepat. Apa ya kira-kira kehilangan saya yang paling besar??? Apakah kehilangan kesempatan memperdalam ilmu Administrasi Negara dengan mengikuti kegiatan yang tentu saja berhubungan dengan disiplin ilmu yang saya geluti itu? atau kehilangan kesempatan untuk lulus cepat yang berarti saya bisa cepat dapat kerja, yang berarti saya cepat naik jabatan, yang berarti tabungan saya cepat banyak, yang berarti saya cepat-cepat mendapatkan yang lainnya.

Akhirnya saya membandingkan kesempatan-kesempatan itu dengan apa yang saya sudah dapatkan. Kesempatan berproses dengan teman-teman di teater (khususnya Teater Sopo). Yang isinya kesempatan berdiri di panggung dengan sorotan lampu, berada di pihak yang menikmati tepukan penonton seusai pentas, kesempatan untuk menjadi seseorang, menyadari betapa kita bisa menjadi orang yang lemah sekaligus hebat, kesempatan untuk tertawa, menangis, bahkan keduanya baik di atas panggung maupun dunia nyata. Kesempatan menyadari kebaikan dan kebusukan hati kita. Kesempatan mengalami ketulusan pertemanan. Kesempatan belajar bertanggungjawab atas segala keputusan saya dan kepercayaan yang diberikan orang lain. Dan kesempatan-kesempatan lainnya yang akhirnya membuat saya tidak menyesali keputusan yang sudah saya buat.

Itu menurut saya, bisa sangat berbeda menurut orang lain. Tentu saja semua nilai atas kesempatan tersebut sangat subyektif, dan memang tidak selalu bisa diukur dengan uang. Keputusan yang saya contohkan tadi memang bisa dibilang tepat untuk saya, sekaligus bisa dibilang keputusan yang egois. Semoga tidak ada penyesalan dalam keputusan-keputusan kita yang egois.

Jakarta, 12 Agustus 2008

Gelar Seni Sepekan TBS 2008


Mulai tanggal 10 sd 15 Agustus 2008 mendatang, Taman Budaya Surakarta (TBS) akan menggelar acara Gelar Seni Sepekan 2008. Gelaran Kesenian ini akan menampilkan berbagai macam kesenian baik tradisi maupun modern yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Akan dihadirkan 24 kelompok kesenian yang diantaranya akan mementaskan seni tari modern, teater, musik dan seni tradisi.

Hanindawan sebagai koordinator acara tersebut menjelaskan tema yang diambil dalam gelaran kali ini adalah mengenai humanisme dan lingkungan, dimana kondisinya saat ini semakin meresahkan. Maka gelar seni ini ingin dijadikan sebagai suatu ruang berekspresi yang diharapkan dapat membantu menggambarkan realitas yang terjadi saat ini dan tentunya untuk suatu tujuan yang lebih baik. Diharapkan pula event ini bisa menjadi ruang publik untuk berekspresi dan sekaligus mengakomodasi berbagai kesian dan budaya lokal.

Selain gelaran seni, ada juga pameran kerajinan batik dan handicraft yang buka selama event ini berlangsung. Stand-stand yang ada sangat beragam yang antara lain ada batik, kerajinan tangan, cinderamata berbagai daerah di Indonesia serta aneka jajanan tradisioal Solo.

Jadwal Acara

Minggu, 10 Agustus 2008
10.30 : Teater Anak-Anak Area-Q, Solo (Teater Arena)
19.30 : Pembukaan Acara Gelar Seni oleh Qua Etnika, Jogja (Pendapa)
20.00 : Musik Amari, Solo (Pendapa)
20.30 : Tari Modern Wied Senjayani, Solo (Pendapa)
21.00 : Tari Yaksojati, Cepogo Boyolali (Pendapa)

Senin, 11 Agustus 2008
16.30 : Sanggar Kotakan, Sukoharjo (Pendapa)
19.30 : Teater Gidag Gidig, Solo (Teater Arena)
20.00 : Kelompok Musik & Tari Kalimantan Barat (Pendapa)
20.30 : WO Ngesti Pandowo, Semarang ( Pendapa)

Selasa, 12 Agustus 2008
16.30 : Sanggar Sekar Mekar, Sragen (Pendapa)
19.30 : Monolog Putu Wijaya, Jakarta (Teater Arena)
20.00 : Musik Puisi Jayagatra, Ungaran (Pendapa)
20.30 : Orkes Keroncong Remaja ;SMA 6, SMA 2 da SMA Yosef Solo (Pendapa)

Rabu, 13 Agustus 2008
16.30 : Santiswara Masjid Nurulhuda, Kentingan (Pendapa)
18.30 : Musik Batik Fashion On Street (Depan Galery)
19.30 : Teater TOKEK, Solo (Teater Arena)
20.00 : Musik Calung Astuti, Purwokerto (Teater Bong)
20.30 : Tari Modern Kelompok Independent Expression, Solo (Pendapa)

Kamis, 14 Agustus 2008
16.30 : Musik Batik On Street, Batik Semar Solo (Depan Galery)
19.30 : Teater Kail, Jakarta (Teater Arena)
20.00 : Tari Jaranan Karjosono, Sawangan Magelang (Depan Galery)
20.30 : Wayang Kulit Jumat Kliwon (Pendapa)

Jumat, 15 Agustus 2008
16.30 : Jathilan Turangga Muda, Klaten (Pendapa)
18.30 : Capoera Festival, Solo (Pendapa)
19.30 : Komposisi Musik AJI, Banyumas (Pendapa)
20.00 : Musik Yamking, PMS Solo (Depan Galery)
20.30 : Kethoprak Gabungan Surakarta (Pendapa)

NB : Semua Acara GRATIS
foto: http://www.joglosemar.co.id/

Pagupon Palupi #2




Sungguh kesempatan yang baik sekali. Dalam kegiatannya yang ke dua ini Pagupon (Paguyuban Minggu Pon) dapat bersilaturahim ke daerah Bayat Klaten, tepatnya di rumah tinggal temen kita Tunjung atau TeJe (3/8). Sambutan yang hangat dan suasana kekeluargaan terjalin ketika teman-teman yang kebanyakan dari Solo datang berkunjung ke rumahnya. Sebagian besar dari yang hadir baru pertama kali berkunjung ke rumah TeJe.

Dalam pertemuan itu antara lain dibicarakan agenda terdekat Teater Sopo yaitu pentas produksi tanggal 30 Agustus 2008 mendatang, kemungkinan untuk membentuk kelompok teater, dan yang ketiga adalah hajatan waktu terdekat dari anggota Pagupon. Tentang pentas produksi yang di bahas hanyalah sosialisasi kepada para alumni dari ketua teater sopo, Eko, yang kebetulan juga hadir pada pertemuan kali itu. Mengenai topik pembahasan selanjutnya tentang kemungkinan membuat kelompok teater sendiri, cukup memberikan perhatian sedikit pada anggota Pagupon. Artinya bahwa tidak akan menutup kemungkinan bahwa Pagupon akan membentuk teater. Pada kesempatan yang baik itu pula, Prend kita Rifai Latif mengumumkan akan melepasa masa lajangnya besok pada tanggal 21 agustus 2008 di Sragen dan akan mengadakan tasyakuran di Klaten di rumah tinggalnya pada tanggal 24 Agustus 2008 (tempat dan waktu yang pasti menyusul).

Kemudian untuk putaran selanjutnya, Pagupon akan mengadakan pertemuan pada bulan puasa mendatang tanggal 7 September 2008 bertempat di Rumah Sohib kita Handy "Gendul" di daerah Jaten Karanganyar, sambil berbuka puasa bersama.

Selamat bagi teman-teman yang berbahagaia dan bagi seluruh anggota Pagupon terutama yang belum sekalipun datang pada pertemuan arisan, kita tunggu kedatangan teman-teman di rumah tinggal Handy.


Don't miss it...!!!

Copyright © 2008 - Teater Sopo - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template