Teater Sopo 4 Festamasio

Tujuh belas tahun bukanlah sebuah rentang yang singkat. Memasuki usia ini adalah sama artinya dengan menemu sebuah fase pendewasaan. Di mana subyek yang bersangkutan diharapkan akan lebih bijaksana dalam menyikapi detak-detak alur kehidupan. Pun demikian juga halnya dengan Teater Sopo. Seiring perjalanan waktu, Teater Sopo telah menggoreskan banyak jejak dan tak pernah berhenti mencoba hal-hal baru dalam alur kehidupannya. Dan bersamaan dengan proses kehidupan yang menuntut pembuktian eksistensi diri, Teater Sopo terus berusaha berjuang untuk selalu mencipta dan menggoreskan kata 'ada'.

Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) adalah kegiatan temu karya dan silaturahmi kelompok teater kampus seluruh Indonesia, yang digelar sebagai wujud eksistensi dan kontribusi teater kampus dalam perkembangan seni teater di Indonesia. Kegiatan yang diadakan setiap dua tahun sekali ini pertama kalinya diselenggarakan pada 2001 di Samarinda, Kalimantan Timur. Kemudian selanjutnya, Festamasio II diadakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Sementara Festamasio III digelar pada tahun 2005 di Yogyakarta. Dalam gelaran yang difasilitasi oleh Teater Gadjah Mada UGM tersebut, Teater Sopo berhasil meraih penghargaan MANAGEMEN PRODUKSI TERBAIK. Hal ini menjadi semacam lecutan dan alarm pengingat bagi Teater Sopo, untuk selalu meningkatkan kualitas dalam karya-karya selanjutnya.

Dan kali ini, setelah melalui tahap seleksi dari 42 calon peserta Festamasio IV, Teater Sopo berhasil lolos tahap kuratorial yang terdiri dari kurasi video dokumentasi dan naskah pementasan. Hal tersebut berarti Teater Sopo berhak mengikuti serangkaian kegiatan Festamasio IV di Jakarta pada tanggal 27 Februari - 6 Maret 2009 mendatang.

Naskah yang akan diangkat dalam festival tersebut adalah Anak Angin. Naskah ini sendiri adalah sebuah karya dari anggota Teater Sopo, Hendro Prabowo. Sebelumnya naskah ini pernah dipentaskan dalam rangka Pentas Produksi XV Teater SOPO dengan judul Anak Angin Sang Duta di Teater Arena TBJT Surakarta (5 September 2007), Sragen (7 September 2007), dan Salatiga (9 September 2007). Sementara naskah Anak Angin yang rencananya dipentaskan di ajang Festamasio IV mendatang, sebelumnya telah dipentaskan di Teater Arena TBJT pada 25 November 2007 dalam gelaran Panggung Seni Seribu Bunga.

Mengapa Anak Angin? Mungkin pertanyaan ini yang akan singgah di dalam benak. Pada hakekatnya pemilihan naskah pementasan ini bukanlah sebuah tindakan asal-asalan. Anak Angin merupakan adaptasi penafsiran dari kisah pewayangan Ramayana, Anoman Duta. Alur, nama tokoh, serta setting lokasi dalam cerita ini hampir sama dengan kisah yang terceritakan dalam Anoman Duta. Hanya saja dalam penafsirannya, Anak Angin menganut konteks kekinian. Di mana isu lingkungan hidup dan tema humanisme dimasukkan sebagai tema sentral cerita. Hal ini sejalan dengan perkembangan jaman saat ini, yang menuntut pentingnya pemberdayaan sifat-sifat kemanusiaan dan tanggungjawab kita sebagai manusia. Hal inilah yang menjadi kunci penggarapan Anak Angin dalam Festamasio IV mendatang.

Proses Anak Angin kali ini disutradarai oleh Yonek d'Nugroho, yang sebelumnya juga menyutradarai pementasan Anak Angin Sang Duta. Sementara para aktor yang terlibat di dalamnya adalah Rudyaso Febriadhi (Anoman), Wahyono (Saksadewa), Putra Lawu Perdana (Indrajit), Noviana Rahmawati (Emban Limbuk), Alief Pandu Wirawan (Rama Wijaya), Yohana Wahyu Purbasari (Trijata), dan Wury Febrianingrum Suyono (Dewi Sinta). Sedangkan di belakang panggung ada Destina Nur Rakhimawati yang bertindak sebagai Pimpinan Produksi, Anggo Anurogo (Stage Manager), Noer Apriyana (Penata Rias & Kostum), R. Agustinus Rudy Indra Gunawan (Penata Musik), Sangaji Surahmat (Penata Set & Property), Reny Kistiyanti (Penata Lampu), Listyo Budi Santoso (Penata Adegan Laga), dan Sari Wuryani (Divisi Umum)*.


*Donasi untuk Teater Sopo 4 Festamasio bisa dikirim melalui:
Rekening BCA No. 0094741293 (KCU SEMARANG)
a/n. SETYO ANDI SAPUTRO
Informasi lebih lanjut hubungi Andik di kiri_society@yahoo.co.id

MOHIK

oleh : Hendro Prabowo

Mohik is son of Gudhel, anaknya Gudhel. Pipinya tembem dan bibirnya suka ngowoh. Rambutnya njegrak tidak karuan, dari situlah dia mendapat julukan Mohik. Pada awalnya Mohik adalah bocah yang clingus. Tapi selepas slup – slupan rumah Manang, perkembangan Mohik sedikit berbeda. Dia bukan bocah clingus lagi. Pemberani dan penjelajah. Setiap sudut rumah dan perkarangannya yang baru sudah habis ia jelajahi dengan tiada bosan (tapi tetap dengan bibir yang ngowoh). Setiap bertemu dengan kawan – kawan orang tuanya, dia tidak pemalu lagi. Langsung nemplok dengan menggemaskan. Rupanya ia mulai mengenal emosi – emosi yang baru.

Sebagai seorang penjelajah, Mohik mempunyai sekondan. Anak tetangga yang seumuran dengan Mohik. Kemana – mana selalu berdua, bermain pun berdua. Siang itu pun dia sedang terlihat bermain dengan kameradnya di teras rumah. Sedangkan ayah ibunya sibuk meladeni dan becengkerama dengan para tamu. Seperti layaknya para penjual jaman dulu. Sesekali para orang tua melirik ke teras untuk mengawasi. Tiba – tiba kami dikejutkan dengan suara perkelahian di teras rumah. Rupanya Mohik tengah berkelahi dengan kameradnya. Mengejutkan memang, anak sak precil itu sudah bisa berkelahi. Rupanya mereka mulai mengenal emosi – emosi yang baru.

Segera saja Ibunya Mohik ingin melerai kedua anak itu. Tapi dicegah oleh Gudhel. “ Nanti nak berhenti sendiri “, begitu ujar Gudhel. Tentu saja perkelahian itu berhenti sendiri. Si anak tetangga a.k.a si sekondan a.k.a sang kamerad lari ke rumahnya sambil menangis. Mohik sendiri langsung nemplok Ibunya dengan mewek. Si Ibu langsung menenangkan Mohik. Para tamu cuma tersenyum. Bapaknya cuma nyengir. Agak khawatir juga melihat peristiwa itu dan menilik reputasi Gudhel dalam menjalankan Teater SOPO dulu.

Ketika ada anak buah yang sedang menghadapi permasalahan organisasi, Gudhel selalu memberi solusi yang menyesatkan. Setelah si anak buah berhasil keluar dari permasalahan, oleh Gudhel ia beri permasalahan baru dan solusi baru yang menyesatkan pula. Hingga anak buahnya bosan minta petunjuk pada dirinya. Jangan – jangan metode ini yang ia terapkan pada anaknya, si Mohik. Tapi tidak rupanya, Gudhel mrenahke mana yang salah dan benar pada Mohik. Kalau salah harus sadar akan kesalahan dan bertanggung jawab. Kalau benar harus dilabuhi sampai saat terakhir. Let them taste the sweet of blood shall they know the bitter of pain.

ABSURD

Gudhel saat ini sedang membangun sebuah warung makan kecil di perkarangan depan rumahnya yang baru di Manang. Agar suasana pedesaan di daerah sekitarnya menjadi lebih regeng, lebih ramai, begitu katanya saat ditanyai tentang alasan. Pembangunan warung sudah hampir selesai ketika kami berbincang sambil menikmati sore. Sore yang indah tentu saja. Bau persawahan yang khas. Suara cenggeret. Lanskap persawahan yang membentang luas. Ufuk barat seperti sedang dibakar merahnya matahari. Awan – awan kelabu seperti asap besar yang membumbung. Pecikan apinya membuat langit tertoreh oleh warna lembayung. Sedikit kebahagian di senja hari.

Tapi perasaan bahagia ini menjadi canggung ketika tema perbincangan kami adalah tentang para petani padi. Pola tanam yang salah kaprah. Harga yang terpaut jauh antara gabah dan beras. Kebijakan yang salah. Sistem pengijon. Bantuan mesin penggiling yang tak pernah sampai ke tangan petani tapi malah dimiliki oleh para pengijon. Bureaupathology yang akut. Pungli di jalanan. Sistem kios beras di pasar tradisional. Belum lagi tentang masalah antri. Petani padi adalah manusia antri. Membajak sawah dia antri. Antri benih. Antri pengairan. Antri pupuk. Antri segala macam.

Inikah perasaan absurd itu ? Bagi Albert Camus kebahagiaan dan absurditas adalah dua putra dari satu bumi. Keduanya tidak terpisahkan. Salah bila dikatakan bahwa kebahagiaan lahir dari penemuan absurd. Bisa juga terjadi bahwa perasaan absurd ditimbulkan oleh kebahagiaan. Itukah yang dirasakan oleh para petani padi ? Mungkinkah para petani padi merupakan gambaran dari sosok manusia absurd ?

Bagi Camus, aktor pada umumnya bukanlah manusia absurd. Melainkan manusia melalui jalan hidup absurd. Manusia absurd mulai pada saat manusia sehari – hari berhenti, ketika dia tidak lagi mengagumi sebuah permainan drama. Masuk dalam kehidupan – kehidupan itu, merasakannya dalam keanekaragamannya. Dia benar – benar memainkan hidup itu. Mungkinkah para petani adalah manusia absurd ? Berperan sebagai sang pemilik sekaligus budak. Manusia ekonomi dan manusia antri. Yang marjinal dan mayoritas. Petani sebagai manusia absurd atau tidak, selayaknya para aktor belajar kepada para petani.
ditulis oleh :
Hendro Prabowo

Workshop Keproduksian & Dasar Artistik

Teater Sopo akan membuat workshop tentang keproduksian dan dasar artistik dalam waktu dekat ini. Tepatnya besok pada tanggal 4-5 Desember 2008 di Ruang 3 Fisip UNS yang akan dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB sd selesai. Workshop akan diikuti oleh seluruh anggota teater Sopo.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai persiapan untuk pentas produksi dan persiapan mengikuti Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) di Jakarta akhir bulan februari 2009 mendatang. Pada kegiatan ini akan di berikan materi seputar keproduksian yang antara lain adalah manajemen pentas, tim produksi, make up dan kostum, dan stting serta lighting. Adapun para pengisi materi antara lain Ade Mindarwan (keproduksian) yang telah banyak pengalaman membantu keproduksian film-film nasional seperti "Naga Bonar jadi 2", "Liburan Seru", "Saus Kacang" dll. aNur Apriyana (make up dan kostum), dia adalah mantan ketua teater sopo yang sekarang menjadi wanita karier di bidangnya yaitu make up dan kostum artis. Untuk materi manajemen produksi akan di pandu oleh Tanir, seorang eksekutif muda di dunia perbankan yang dulunya juga seorang aktor dari teater sopo. Sedangkan setting dan lighting akan diserahkan kepada Yonex. Dia adalah sutradara, aktor dan juga pekerja tata rupa panggung dan konseptor penataan panggung yang telah mempunyai banyak pengalaman.
Setelah selesai workshop tersebut, para peserta akan diberikan tugas untuk membuat sebuah karya yang akan dipentaskan dalam ajang aktualisasi. Acara aktualisasi itu sendiri akan dilaksanakan besok pada tanggal 17 Desember 2008 yang akan bertempat di FISIP UNS, pada jam 19.00 WIB.
Target dari acara ini adalah bahwa anggota teater sopo memahami tentang keproduksian dan bagaimana menjalankan suatu proses pembuatan karya hingga sampai pada penyajiannya.

Copyright © 2008 - Teater Sopo - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template