PERANGMU DIMULAI
Hari ini lahirnya Sang Prajurit
Hari ini pula hilangnya PEPERANGAN
Untuk dia yang kehilangan perang
bukan karangan bunga
bukan bintang jasa
untuk dia prajurit yang terlahir hari ini
untuk dia prajurit yang kehilangan perang hari ini
Dua pedang untukmu
Empat mata tajam untukmu namun bukan samurai atau asoka
Dua matamu untuk 2 mata tajamnya
Dua kakimu untuk mata tajam yang lain
Lalu lehermu
Gantungkan di kain panji panjimu
Prajurit
(ditulis oleh: Dee, 4 Maret 2011)
"KLUTIK..KLUTIK..KLUTIK"
Cethik...Cethik...Cethik...
Tepat di parking box stasiun nenek itu meraba isi tas koper warna magenta miliknya. Tangannya menimbulkan suara yang cukup jelas, karena stasiun cukup senyap. Sejenak wanita paruh baya itu heran, ternyata dia bermaksud mencari telepon genggam,tetapi yang didapat adalah seikat TNT dengan timer yang seduri tapi berdetik.
Cukup jelas terlihat, walau jarakku dengannya lebih dari 50 meter, timer itu tinggal sebentar lagi. Namun, nenek itu mengira itulah HP nya,sembari mulai menekan tombol tombol tak karuan dan tergesa, secepat jantungku berdetak hebat.
Dan....darahku berdesir!!
*Dua orang anak...
Saling berebut sebungkus roti..
Bungkusnya sudah sangat lusuh,
seperti baju mereka...
di antara gedung bertingkat
mereka berlarian riang,
Oh..padahal depan mereka
ada 2 makhluk asing,
wujudnya bukan manusia
matanya bercahaya hijau
dalam kegelapan....!!!
(ditulis oleh: tyok)
ANTARKAN AKU KE CELAH BUMI KELAK
Ketika bercakap dengan dedaunan pagi ini.
Melayang, menyelusup celah parinya,
Menajamkan mata, memejam pekat hijaunya...
Bening menyapa setelah lagi mata terbuka
"Kata Mereka Diriku Selalu Dimanja"
"Kata Mereka Diriku Selalu Ditimang"
Daun pintu berteriak lagi.
Membanting dirinya,menutup untukku
Menunggu memancarkan air dari celah pandangan
Sementara,
Daun telinga menyisir kegelapan
Celoteh kesana kemari memanggil
Berisik usik usik..menarik
Antarkan aku dengan merehmu
Bukan abu abu yang kuinginkan
Menangislah kau dengan putihmu
Bukan kuningmu mengiring
Bergembiralah kau dengan hitammu
Bukan warna merahmu.
(Ditulis oleh: dee bin Pujiono)
RETORIKA
Retorika
lagi
Retorika
lagi
Retorika
Hentikan sekarang!
Insyaalah berarti tidak
Retorika
lagi
Retorika
lagi
Retorika
Hentikan sekarang!
kasihan PARE terlalu pahit di hatimu
kalu pare ada di tubuhmu, mau kau kemanakan empedumu?
kasihan JERUK terlalu kecut di mulutmu
kalau jeruk di mulutmu, mau kau kemanakan raut muka kecutmu?
kasihan APEL terlalu manis di mulutmu
kalau apel ada di mulutmu, kau kemanakan manis bibirmu?
Retorika
Beretorika
Meretoritakan
Ada saatnya, kapan?
kau akan mengerti jika kau lupakan RETORIKA...
(ditulis oleh: MELAWAN ADAT PERUSAK SWASANA DEE.H.Bin Pujiono)
KELAKAR KEMATIAN
Terlalu lama kau hisap nafas sulfur tanah ini
Tapi terlalu cepat kau tamak dalam angkara terselubung ini.
Semakin cepat kau pacu jantungmu, semakin cepat pula anjing-anjing bermata merah mengincarmu..
Surga telah terbakar, nak…
Tapi kau belajar dari nistamu..
Neraka menutup dirinya..
Kekalahan atau kemenangan
Mengalah belum tentu kalah, dan menang belum tentu emas tekalung dileher
Tak ada embun pagi, Tak ada senja, tak ada kehidupan,
Hanya kegelapan yang menyertai..
Lepaskanlah, nak.. Semua kenanganmu..
Percaya dan ikhlaskanlah
Tertidurlah, nak…
Tak akan ada sakit lagi
Nafasmu fana, langkahmu gontai,merdekalah,gelap kan menjemputmu
Nafasmu fana, langkahmu gontai,merdekalah,gelap kan menjemputmu
Nafasmu fana, langkahmu gontai,merdekalah,gelap kan menjemputmu
Nafasmu fana, langkahmu gontai,merdekalah,gelap kan menjemputmu
(ditulis oleh: FLYAWAY, 25 Maret 2011)
Kamis, 10 Maret 2011, sore itu cerah langit tak mendung terlihat biru, secerah dan sebiru wajah anak anak SOPO pada saat itu. Walaupun yang datang tak terlalu banyak akan tetapi suasana pada saat itu begitu menyenangkan. Latihan hari Kamis kemarin adalah latihan rutin pertama di tahun 2011. Sama seperti latihan latihan pada biasanya, kami memulai dengan pemanasan fisik walaupun sebenarnya suasana pada saat itu memang panas, dari ujung kepala sampai ujung kaki coba kami panaskan, dan terasa panas lagi setelah kami lari lari mengitari hutan FISIP sambil mengenang masa masa Bikin Bikin XVII. ENGINE SUDAH SIAP! Pemanasan vokal pun dimulai, mencoba memanaskan vokal dengan tujuan ketika kita pentas, vokal kita sudah terjaga mutunya, mencoba membentuk mutu sedari dini.
Bertepatan dengan latihan vokal, sesosok pria berhelm dengan motor supra hitam dengan mengenakan tas punggung dan pakain kemeja abu abu bermotif kotak kotak, bercelena panjang dan mengenakan "bling bling" berupa flashdisk meluncur dari ekonomi, dengan senyum ramahnya ia membalas sapaan anak anak yang menyapanya secara bersahutan sahutan. Yah pria yang sudah menyelesaikan "nine to fivenya"
itu adalah Surya Nugraha, ia menjadi pemateri pada saat itu. Nampaknya selagi kita latihan vokal ia mempersiapkan sesuatu untuk latihan nanti. Dan ternyata benar saja, latihan yang pada hari itu kami kira akan berjalan membosankan ternyata Mas Suryo membalikkan semua itu. Latihan pada hari itu kita diajaknya pada sebuah permainan di masa kecil, kita diajak bernostalgia dengan masa kecil kita, sebuah permainan bernama "kontrakol". Sebuah permainan di mana bola tenis dan tumpukan batu adalah objeknya. Cara permainannya adalah kita dibagi dalam dua regu, antara eksekutor yang melemparkan bola tenis dan yang menjaga tumpukan batu tersebut. Jika bola tenis yang dilempar mengenai tumpukan batu maka tim itu harus berusaha membangunnya kembali, tapi harus waspada, tim lawan juga bersiap sia untuk mematikan gerakan, tim lawan berusaha menghalang halangi pembangunan tersebut, jika terkena bola tenis sebelum tumpukan batu berhasil dibangun kembali maka tim itu dianggap kalah. Tim lawan yang menghalang halangi pembangunan dengan melemparkan bola tenis, tidak boleh mengenai langsung proses pembangunan kembali tersebut, melainkan harus dioper ke temannya terlebih dahulu.
Pada hari itu anak anak dibagi menjadi dua tim, Tim A yang dipimpin Reza dan Tim B yang dipimpin Aji. Setelah suit Tim A mendapat kesempatan pertama untuk menjadi eksekutor, akan tetapi karena gagal maka kesempatan eksekutor diberikan kepada Tim B. sedangkan Tim A yang menjaga tumpukan batu. Pada kesempatan pertama menjadi eksekutor, Tim B berhasil merobohkan tumpukan batu akan tetapi langkah mereka terhenti karena ada satu anggota mereka yang terkena lemparan bola tenis. Berulang kali Tim B berhasil merobohkan tumpukan batu dan berulang kali pula anggotanya terkena lemparan bola, maka tidak ada poin untuk mereka. Poin pertama diberikan kepada Tim A karena mereka berhasil membangun kembali tumpukan batu. Kedudukan 1:0 untuk Tim A. Dalam kedudukan ini, Mas Suryo merubah aturan permaiannannya. Yang ia rubah adalah aturan di mana ketika seorang pemain yang terkena bola maka ia harus meninggalkan lapangan permainan, di aturan permainan pertama adalah jika ada satu pemain dalam tim yang terkena bola maka tim itu kalah. Hal itu dialami oleh Tim B, dalam kondisi hanya menyisakan satu pemain yaitu Budi dan ia pun terkepung oleh Tim A, pada akhirnya pula ia berhasil mempecundangi Tim A dengan berhasil menyusun tumpukan batu.
Pada latihan sore itu, kami juga menyaksikan sebuah pemandangan menarik, sebuah pemandangan yang nampaknya menjadi ispirasi dari pembuat sarung cap Gajah Duduk, nampaknya dulu pembuat sarung tersebut mengalami atau setidaknya mengalami kejadian yang juga kami alami. Yaitu kejadian di mana teman kami, Apsari, terperosok ke dalam selokan, dan posenya ketika itu mirip dengan icon sarung tersebut. Seketika itu juga kejadian yang sangat "memorable" tersebut mendapat banyak respon berupa tertawa terbahak bahak. Tak terhitung berapa volume suara yang dihasilkan akibat kejadian tersebut.
Jam menunjukkan pukul 17.00 lebih sedikit, dan permainan pun diakhiri dengan kedudukan Tim A 1:Tim B 1. Menarik sekali bisa bernostalgia dengan masa kecil kami, berbeda sekali dengan masa kecil anak anak zaman sekarang di mana modernitas melibas hal hal yang bersifat tradisional. Bisa kita hitung dengan jari berapa anak yang masih setia dengan permainan ini. Permainan yang sederhana tersebut sebenarnya juga terdapat elemen elemen dasar dari teater jika kita mau mengupasnya terlebih dahulu. Konsentrasi mejadi poin penting, apalagi ketika kita mendapat bagian menjadi ekekutor. Olah gerak, respon, vokal, ping pong, dll bisa kita dapatkan dalam permainan yang sederhana tersebut.
link foto: http://www.facebook.com/album.php?aid=2076949&id=1433582914&saved
Bikin Bikin XVII akhirnya terselenggara sudah. Proses selama 3 bulan telah kami jalani, dan puncak acara pada tanggal 22,23,24 Februari 2011 dengan menghadirkan 6 repertoar telah mendatangkan penonton yang lumayan banyak. Proses yang kami jalani terhitung berat karena pada Bikin Bikin XVII ini, konsep outdoor menjadi pilihan ketika aula yang semula menjadi pilihan akhirnya harus mandek dijajaran dekanat kampus, karena alasan aula hanya dipakai untuk kegiatan akademis (baca: seminar), untuk kegiatan non akademis dan itu dari sebuah UKM, jajaran dekanat tidak mengijinkannya karena alasan ini itu dan lain sebagainya. Tapi kami mencoba memaklumi itu. Dan menghadirkan konsep outdoor adalah tantangan, pembelajaran dan pengalaman tersendiri bagi kami. Dan proses yang berat juga dialami oleh salah satu anggota kami yang juga ikut sebagai aktor di salah satu pementasan, karena ia kemarin mengalami kecelakaan parah dan mengalami operasi di kepala. Tapi karena keinginannya untuk berpentas, maka proses penyembuhannya terhitung cepat. Dan akhirnya niatannya pun terpenuhi ketika ia ikut pentas kemarin.
Proses yang dijalani dari awal Desember, mulai dari pemilihan panitia,casting,pemilihan venue, dll, telah kami jalani. Itu semua merupakan rangkaian dari proses ini, kami menikmati ini semua. Latihan demi latihan yang memakan waktu sampai malam hari (seperti biasanya) juga telah dijalani. Dan kami berterimakasih kepada hik koyor horor di ngoresan yang menjadi "pelampiasan" amarah dan nafsu makan yang terbendung pasca latihan setiap hari. Kami sering melepas penat di tempat itu.
Dan berjibaku dengan hujan bisa dibilang konsumsi kami sehari hari, karena kondisi alam yang tidak bisa ditebak, itulah resiko dari konsep outdoor. Baik pada waktu latihan artistik, GR, maupun pada waktu pentas kita semua berbasah basahan di stage. Nikmat! Pada waktu GR dan pentas, kami harus bisa memasang alat dalam kondisi hujan disertai petir dan angin yang kencang. Kejadian yang bisa dibilang "lucu" terjadi pada waktu hari kedua, di mana venue yang berada di Areal Gedung IV, serta merta porak poranda oleh hujan. Karena lokasi stage yang lebih rendah maka air meluncur deras dari atas, dan backdrop dan yang telah tepasang dan terbentuk terpaksa diamankan, dan kami beralih untuk membuat tanggul di sekitar stage karena antisipasi yang kurang sebelumnya. Mencangkul tanah, dan mencari brangkal brangkal untuk dijadikan tanggul merupakan pekerjaan sampingan selain memasang backdrop dan memasang lampu. Dan setelah hujan reda, bersih bersih stage merupakan kewajiban yang harus dilakukan dengan cara ngangsu, membersihkan stage dengan sapu ijuk dan alat alat lain yang bisa mengeringkan. Setelah dirasa bersih, CYC merupakan pilihan untuk mengeringkan stage, kami menggunakan banyak CYC untuk mengeringkan stage, dan itu merupakan solusi yang jitu. Setelah kering, kami lanjutkan kembali memasang lampu dan membenahi backdrop walaupun sudah pukul 20.00, molor dari jadwal.
Dan Tuhan masih menunjukkan KuasaNya lagi, dan KuasaNya tersebut sangat memberi pelajaran bagi kami lagi. Pelajaran kedua berkaitan dengan pembuatan tanggul lagi adalah: Buatlah tanggul yang memotong dari arus utamanya! Itu terjadi pada waktu hari kedua pementasan, tanggul jebol lagi dan menggenangi stage lagi gara gara arus air dari atas tidak terbendung. Dan kami kembali lagi mengulangi proses yang telah kami paparkan dia atas. Di hari terakhir GR, setlah GR, kami mengadakan tumpengan, seperti adat di Indonesia, dengan tumpengan dan seraya berdoa kepada Tuhan diharapkan ketiga hari pementasan tersebut bisa berjalan dengan lancar dan sukses.
Di tiga hari pementasan, lebih dari 100 orang menonton pementasan kami. Kami berterimakasih kepada para penonton yang telah menonton pementasan kami, walaupun lama menunggu untuk masuk ke venue, dan untuk itu kami meminta maaf kepada para penonton kemarin. Semoga molornya waktu bisa terobati dengan pementasan kami kemarin. Pementasan hari pertama ditandai dengan udara yang dingin dan rintik hujan, diawali dengan pementasan CELENG sutrada Bagus M.P., dengan setting sebuah makam dan jemuran semoga itu bisa menggambarkan kesan wingit, walaupun venue yang sudah wingit dari awal. Pementasan CELENG yang menggambarkan rasa penyesalan yang diderta oleh seorang istri akibat suaminya yang mendua, pementasan ini memakan waktu kurang lebih selama 25 menit. Tokoh Darsi yang di cerita menjadi gila, diperankan baik oleh Apsari walaupun kendala vokal menjadi masalah utama tapi pementasan dapat berjalan dengan lancar, dan pementasan diakhiri dengan membanting makam oleh Apsari, sebuah adegan yang mengagetkan karena pada waktu latihan ia sebenarnya tidak melakukan itu, dan itu menunjukkan bahwa ia tampil secara all out dan benar benar menjadi karakter yang lain. Setelah dihubur dengan pembagian voucher dari para sponsor, pementasan kedua diamainkan. Pementasan kedua adalah DALA dengan sutradara Surya Nugraha , sebuah naskah yang cair walaupun sebenarnya naskah ini adalah simbolisasi keadaan di Indonesia, tapi sutradara dan penulis naskah membawakan cerita ini menjadi cair. Karena naskah yang cair dan juga banyak joke joke yang dihadirkan, menjadikan mood penonton naik dengan cara merespon dengan tertawanya mereka. Apalagi ketika adegan Kolor Ijo muncul,ia "memporankporandakan" pementasan waktu itu. Sang sutradara disuruh naik ke stage pada waktu itu, akan tetapi ia tidak mau. Ditambah lagi dengan dugem mendadak di stage, seluruh pemain dan crew pada saat itu berjoget bersama dengan musik disko ala Pantura seoalah olah itu merupakan media refreshing sesaat dari kepenatan pentas. Diakhiri dengan puisi ritmis dan gerakan gerakan teatrikal sarat simbolisasi yang merupakan gambaran kapitalisme yang telah mencengkeram erat, semua elemen pada akhirnya akan tunduk pada satu jeratan yaitu: kapitalisme. Dengan lantunan lagu "Bertahan Satu Cinta" dari D'Bagindasa yang dirombak ulang habis habisan, mengantarkan penonton pulang dan mengakhiri pementasan di hari pertama.
Di hari ketiga, dalam pementasan SI MBOK hasil garapan Agung Irawan, kami "mempersembahkan" para gadis dan para pria kami yang menari dengan gemulai dan gagah. Sebuah tarian yang melambangkan isu di Indonesia pada khususnya dan seluruh dunia pada umumnya yaitu tentang isu gender di mana para istri yang selalu ditindas oleh para suami, itu semua ada karena budaya patriarki di mana seorang pimpinan keluarga yaitu ayah memegang peran penting dalam sebuah rumah tangga, tapi pada akhirnya semua itu kembali ke titik nol lagi di mana simbiosis mutualisme juga ada dalam sebuah rumah tangga, di mana suami yang membutuhkan istrinya, dan istrinya yang juga membutuhkan suaminya. Itu semua karena janji yang telah mereka ucapkan dalam sebuah ijab kabul ataupun sakramen pernikahan. Itu semua disimbolisasikan dengan gerakan berjalan berdampingan, ada juga yang pijit pijitan dan saling memadu kasih lagi, sebuah kisah romansa dalam berumah tangga, di mana konflik berakhir dengan indah. Pementasan kedua adalah TANDA SILANG, sebuah naskah hasil saduran dari Almarhum W.S. Rendra dicoba dibawakan oleh Wury cs. Pementasan ini jika dibilang berat memang berat, tapi jika kita mendalaminya akan terasa mengasyikkan. Bercerita tentang penyakit schizoprenia yang menghinggapi tubuh sang kapten sehingga ia sering merasakan halusinasi tentang kapalnya yang ia beri nama Marlini yang telah karam. Mencoba mengadirkan suasana dek kapal dalam rumahnya, sehingga ia merasakan dalam kapal yang telah lama karam. Inti dari pementasan ini adalah bagaimana kita bisa membedakan antara suatu kebenaran dan kebohongan, antara delusi,halusinasi dengan realita, dan bagaimana kita bisa belajar untuk mengendalikan itu semua bahkan kita menjadi obat untuk itu. Ahoooyyy!!!! Sutradara pada hari kedua semuanya adalah dari angkatan 2007, dan masih aktif di organisasi ini. Ini diharapkan menjadi awal mereka untuk menjadi the next director di Teater SOPO.
Pementasan hari ketiga, sebuah pentas monolog lagi, karya sutradara Sari Wuryani dengan lakon ERIN DAN ANGIN PETAKANYA. Seperti lagu "Que Sera Sera" yang menjadi lagu pengiring pementasan tersebut, apa yang akan terjadi maka terjadilah, begitulah lagu yang berkorelasi dengan isi pementasan tersebut, mengangkat isu traficking, di mana Erin yang telah sejak kecil hidup bersama dengan neneknya,pada akhirnya terpaksa dijual oleh neneknya untuk membayar utang utang sang nenek dan ia pun melakukannya walaupun ada dendam di hatinya terhadap sang nenek. Lighting pada pementasan tersebut terlihat unik dan nampaknya menjadi daya tarik tersendiri karena lampu berjumlah 3 dikatrol naik dan turun pada awal dan akhir pementasan. Pementasan terakhir adalah MUSIKALISASI PUISI SOPO dari Tim Musik SOPO dengan aransemen oleh Irawan Wijayanto. Di awal pementasan, oversett alat musik mencoba dihadirkan tanpa adanya blackout. Terkesan riuh dan chaos memang, tapi itulah yang dicoba dihadirkan untuk menghadirkan kesan keguyuban di antara kami, para anggota Teater SOPO. Terkendala dengan balancing suara, maka output yang dihasilkan menjadi sangat noise,sebenarnya lagu lagu yang dibawakan membuat kita terhanyut, tapi dengan kendala seperti itu, kami meminta maaf kembali kepada penonton terhadap ketidaknyamanan ketika mendengarkan output sound.. Lagu lagu yang dibawakan adalah antologi puisi hasil karya anggota SOPO terdahulu, sehingga untuk keluarga SOPO yang sudah menjadi alumni bisa merewind
memorinya ketika masih aktif berada di SOPO. Secara lirikal, begitu dalam terasa. Di lagu "Taman", adalah bentuk dedikasi kami kepada Almarhum Chairil Anwar karena atas jasanya kepada dunia pertunjukan maka kami ada hingga saat ini. (Semoga engkau tenang di SisiNya, dan mendapatkan tempat terbaik, terimakasih kami ucapkan). Di lagu tersebut, kami mendatangkan "bintang tamu" yang diimpor langsung dari Mesir tapi ia sekarang sudah dinaturalisasi dan memilih tinggal di Lereng Gunung Merapi atau lebih tepatnya di Muntilan, Magelang. Ia adalah Hanif "Cecak" Latifatunissa. Proses ini ia terpaksa tidak bisa ikut berkontribusi dikarenakan banjir lahar dingin yang terjadi di sekitaran Gunung Merapi, untung saja ia tidak memberikan oleh oleh berupa lahar dingin. Dalam kondisi lampu blackout, tiba tiba terdengar sebuah kata sambutan, sebuah suara yang terdengar jelas dan mengatasnamakan dirinya sebagai "Dekan". Tapi itu semua hanya guyonan yang dihadirkan oleh Mas Bagus M.P. Dengan banyolan banyolan khas Mas B (sebutan untuk Bagus M.P.) membuat penonton tertawa terkekeh kekeh. Kata sambutan yang berupa geguritan. Namun apabila pada waktu itu ada benar benar kata sambutan dari pihak Dekanat, kami mengucapkan terimakasih banyak. Mas B pada saat itu mencoba bernostalgia dengan lagu lagu dari Sio Sio, sebuah grup musik beraliran campursari dangdut yang para personelnya adalah anggota dari Teater SOPO. Kembali menjadi muda dan kembali merasakan menjadi vokalis, lagu lagu dari Sio Sio dibawakan. Pada lagu pertama "Kelingan Kelangan", dengan bernyanyi ia membuat gerakan gerakan ala SKJ '94 dengan penari latar yang menarikan gerakan gerakan ala penonton acara musik di televisi swasta. Atas kharismanya, tak salah jika ia mendapat fans yang masuk ke atas panggung untuk memberinya pot bunga. Dan dengan majunya Mas B, membuat para alumni naik ke atas panggung juga untuk mengenang masanya. Kurang lebih 3 lagu dihadirkan dari lagu lagu ciptaan Sio Sio. Dan lagu "Goodbye" menjadi klimaks pada Pentas Bikin XVII tahun ini.
Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan semua pihak yang ikut mendukung terselenggaranya Pentas Bikin Bikin XVII ini, dari para penonton, jajaran dekanat, para sponsor, teman teman teater se Solo, UKM se FISIP, dan masih banyak lagi. Ucapan terimakasih yang teramat banyak kami ucapkan kepada para penonton yang telah menyempatkan menonton Pentas Bikin Bikin XVII ini. Kami meminta maaf apabila pada acara kemarin ada hal hal yang membuat ketidaknyamanan penonton. Terimakasih, dan selamat berjumpa pada Pentas Bikin Bikin XVIII dan pentas pentas kami selanjutnya. Dan untuk teman teman anggota SOPO, selamat menjalani proses kembali, jalan masih panjang, kawan...
SALAM BUDAYA!

Ini adalah perjalanan ke XVII dari Bikin Bikin Teater SOPO, sebuah perjalanan yang panjang. Bikin Bikin yang merupakan sebuah ajang apresiasi anggota kami terutama anggota baru kami untuk lebih mengenal apa itu sebuah pertunjukan. Walaupun mengangkat nama "Bikin Bikin", tapi kami tidak "buat buat" di sini, kami tetap menghadirkan sebuah pementasan yang optimal.
Pada perjalanan ke XVII ini, kami membuat 3 hari pertunjukan , di setiap hari ada 2 pementasan yang tersaji. Pada hari pertama akan tersaji pentas "DALA" dengan penulis naskah Hendro Prabowo, sutradara Surya Nugraha. Pementasan ini berkisah tentang kisah romansa antara Dala dan Dyah Nala,akan tetapi perjalanan mereka terhenti akibat ulah Kolor Ijo. Sebenarnya menurut penulis naskah, tokoh tokoh yang coba dihadirkan dalam naskah ini adalah sebuah simbolisasi, dan cerita yang dihadirkan adalah simbolisasi dari keadaan sekarang ini, yaitu sebesar apapun cinta bisa akan dikalahkan oleh kapitalisme, kapitalisme sendiri coba dijadikan sebuah "metafora" melalui sosok Kolor Ijo. Makna yang memang tersaji secara eksplisit dari sebuah cerita yang cair.
Di pementasan jam kedua, masih pada hari pertama, akan tersaji pementasan "CELENG", naskah&sutradara Bagus M.P. Menceritakan tentang sebuah rasa penyesalan yang diderita oleh seorang istri akibat dikhianati oleh suaminya, yang selingkuh dengan wanita lain. Itu dikarenakan harta yang menumpuk yang diperoleh dari pesugihannya, sehingga ia dibutakan oleh duniawi.
Pementasan hari kedua akan dimulai oleh pentas dengan judul "SI MBOK"
dengan naskah&sutradara Agung Irawan, berkisah tentang kisah kehidupan dalam sebuah rumah tangga. Seperti kondisi masyarakat Indonesia pada umumnya di mana budaya patriarki masih erat, sosok ayah masih memegang peran vital, dan kadang kadang karena terlalu memegang kendali itulah, sang ayah tersebut terlalu over controlling sehingga membuat friksi friksi di dalam keluarga tersebut. Dan sosok ibu selalu menjadi korban, seperti kita tahu banyak kasus KDRT di negara ini yang melibatkan antara pasangan suami istri.
Pementasan kedua di hari kedua adalah sebuah naskah saduran dari W.S. Rendra dengan sutradara Wury Febrian dengan judul "TANDA SILANG". Menceritakan tentang kehidupan mantan kapten kapal dengan keluarganya, di mana sang kapten dan anaknya yang bernama Darpo terkena penyakit shizoprenia, kedua orang tersebut selalu mendelusikan dan menghalusinasikan tentang Kapal Marlini dan harta karun yang berisi intan, berlian, zamrud, manikam, dan perhiasan tak terbatas.
Di hari ketiga, di pementasan pertama akan ada pementasan dengan judul "ERIN DAN ANGIN PETAKANYA", naskah oleh Gabriel Marquez dengan diadaptasi dan disutradarai oleh Sari Wuryani. Mencoba menceritakan tentang kehidupan Erin, seorang gadis yang hidp dengan neneknya. Karena utang yang banyak, sang nenek terpaksa menjual tubuh Erin kepada para lelaki hidung belang untuk membayar utangnya. Pada pementasan terakhir, sedikit bernostalgia memang, karena pada pementasan terakhir ini sang sutradara, Irawan Wijayanto,yang pada khusunya mencoba mengembalikan memori teman teman anggota SOPO dengan memusikalisasikan puisi puisi ciptaan teman teman anggota SOPO. Musikalisasi yang menarik ala Irawan Wijayanto.
Dan pada Bikin Bikin XVII ini, konsep outdoor menjadi pilihan ketika aula FISIP UNS yang telah menjadi venue acara Bikin Bikin selama bertahun tahun tidak bisa kami raih akibat peraturan baru dari para petinggi kampus kami. Kami mencoba "memaklumi" itu dan ini merupakan tantangan baru untuk kami bagaimana menyelenggarakan sebuah acara dengan konsep outdoor. Kami malah mengucapkan terimakasih kepada mereka karena masih "menyisakan" Hutan FISIP dan areal Gedung IV (samping parkiran baru)setidaknya untuk tahun ini sebagai tempat pentas, sebelum hutan FISIP berubah menjadi "hutan beton" seperti yang kami dengar isunya. Jika itu benar benar terjadi, semoga kami mencatatkan sejarah di sana.
Ketika tulisan ini dibuat, jarak pementasan kurang 10 hari lagi, saat saat yang krusial. Dan terakhir, bagi Anda yang mempunyai waktu senggang pada tanggal 22,23,24 Februari, kami mempersilakan Anda untuk menonton acara kami. Kami berharap Anda menikmatinya dan menjadi kesan tersendiri untuk Anda