Tampilkan postingan dengan label Pojok Bungkam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pojok Bungkam. Tampilkan semua postingan

Fatal


Anda pernah merasa jengkel, frustasi, ingin melempar dan meremukan sesuatu tetapi hopeless dan tak berdaya ? Tentu saja kita semua pernah merasakan hal tersebut, baik ketika dalam menghadapi situasi dan kondisi yang kompleks maupun yang sepele saja. Seperti saat menonton Kate Winslet memainkan karakter Anna Schmitz dalam film The Reader.
Anna Schmitz merupakan wanita paruh baya yang mempunyai pekerjaan sebagai sipir penjara di masa Nazi berkuasa. Hitler jatuh, dan Anna Schmitz pun dibawa ke hadapan pengadilan untuk dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya. Tindakan yang menyebabkan nyawa banyak orang melayang. Tidak ada sangkalan yang keluar dari mulutnya. Yang keluar cuma argumen khas seorang bawahan. Seperti yang terjadi pada penelitian Hannah Arendt di pengadilan kelas teri Frankfurt. Sebagai sipir penjara ia haruslah patuh pada peraturan dan taat pada atasan. Jika bukan dia yang melakukan pekerjaan memuakan tersebut, orang lain lah yang akan melaksanakannya.
Tetapi kemudian tuduhan berkembang. Anna Schmitz dituduh sebagai otak di belakang kejahatan – kejahatan yang terjadi di penjara tersebut. Ada banyak bukti berupa tulisan dan tanda tangan dia dalam perintah kejam tersebut. Bukti tersebut adalah palsu. Buatan sipir – sipir penjara lainnya untuk mengkambinghitamkan Anna Schmitz. Agar dia yang harus menanggung perbuatan yang tidak dilakukannya. Kali ini Anna Schmitz tidak bisa atau tepatnya tidak mampu untuk menyangkal dan berargumen terhadap tuduhan tersebut. Bukan karena dia yang merasa bertanggung jawab. Tetapi karena Anna Schmitz malu jika rahasia kecilnya terbongkar seandainya ia bicara jujur. Rahasia kecilnya adalah dia tidak bisa baca tulis alias buta huruf.
Karena buta huruf tersebut Anna Schmitz dijatuhi hukuman seumur hidup. Cerita bergulir puluhan tahun kemudian. Lewat bantuan seorang kawan masa lampau, Anna Schmitz akhirnya mampu untuk membaca dan menulis. Kawan inilah yang dulu kerap membacakan karya – karya sastra untuk Anna Schmitz di waktu luang mereka. Anna Schmitz kemudian menulis surat agar sang kawan mau mengunjungi dirinya di penjara. Setelah bertemu, Anna Schmitz menyodorkan seluruh uang tabungannya yang jumlahnya tak seberapa. Agar sang kawan mau menyerahkan uang tersebut kepada ahli waris korbannya dulu sewaktu di penjara. Lalu Anna Schmitz mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di sel penjaranya yang sunyi.
Saat menonton film tersebut, rasanya jengkel, frustasi, ingin melempar dan meremukan sesuatu tapi hopeless dan tak berdaya. Rasanya hampir sama saat menyaksikan fenomena bureauphatology di Pemkot Solo. Saat permohonan bantuan dana Teater SOPO didisposisikan ke meja Dinas Purbakala. Sekali lagi Dinas Purbakala. Duh Gusti Allah nyuwun pangapura. Mungkin bagi mereka, kelompok teater merupakan benda langka peninggalan masa lampau. Menilik fenomena ini, kita bisa melihat bahwa tubuh birokrasi di Pemkot Solo tengah terkena penyakit yang kronis. Semoga saja birokrasi kita dapat sehat kembali. Semoga saja para birokrat itu tidak fatalis lalu melakukan bunuh diri birokrasi. Kalau pun akhirnya mereka bunuh diri, semoga saja tidak mengajak orang lain dan menyebabkan jatuh korban lain. Seperti yang dilakukan oleh para pelaku bom bunuh diri. Semoga.
surakarta, 3 maret 09
Hendro Prabowo

Citra

oleh : Hendro Prabpwo

Seberapa besar usaha kita dalam meraih kebebasan ? Seorang anak kecil yang bernama Jamal tengah terkurung di dalam sebuah kakus empang. Dia, seperti layaknya berjuta rakyat India, sangat mengidolakan Amitabh, legenda bintang film. Sialnya, sewaktu terkurung di kakus tersebut, Amitabh tengah membagikan tanda tangan di daerah itu. Jamal sangat menginginkan tanda tangan tersebut. Pilihan bagi dia adalah melewatkan kesempatan untuk bertemu sang idola atau terjun ke empang yang penuh dengan tinja.Salim memilih yang terakhir. Dia ceburi empang itu. Lalu dengan badan berlumuran tinja, ia menerobos kerumunan fans dan meminta tanda tangan sang idola. Sang idola pun lantas memberikan tanda tangan pada sebuah foto dirinya. Kisah ini ada di awal – awal adegan film Slumdog Millionaire.
Film itu menuai puja dan puji dari para kritikus film di seluruh dunia. Tapi bagi Amitabh ( yang nyata ), film itu terlalu memaksakan. Gambarnya sarat dengan kekumuhan. Film itu terlalu mengeksploitasi kemiskinan yang terjadi di India. India, kemiskinan yang seringkali berkelindan dengan kekerasan religi dan pertikaian ideologi. Sekaligus tanah tempat spiritualitas berasal. Amitabh mungkin jengah dengan citra yang ditampilkan oleh film tersebut. Citra yang lain dari film – film keluaran Bollywood. Tapi Amitabh mungkin juga keliru dalam memandang suatu fenomena.
Jaman ini adalah jaman ketika ideologi dikalahkan oleh realita, dan realita ditundukkan oleh pencitraan. Yang oleh Milan Kundera disebut imagologi, era pencitraan. Walaupun Slumdog Millionaire mengeksploitasi citra kemiskinan, ia hanyalah citra. Kenyataannya lebih buram. Dan idea – idea yang berkeliaran di Mother India tentu saja lebih rumit daripada yang dipaparkan oleh film itu. Toh, ending film tersebut telah mengembalikan pikiran kita ke daratan. Dia tidak dimaksudkan untuk mengusik kesadaran kita. Tapi untuk ditonton di Sabtu malam bersama sang kekasih sambil makan pop corn. Kemudian pulang lalu tidur nyenyak.
“ Namaku Jamal. Ini kakakku Salim . “
“ Namaku Latika . “
“ Kau boleh tidur di sini . “
“ Terima kasih Jamal . “
Lalu cahaya – cahaya merenangi mata. Cahaya dari Panditji, Ali Jina, Gandhi, Bunda Theresa, Budha….

Cemooh

oleh Hendro Prabowo

Apa korelasi secara gathuk entuk antara Nietzsche, Einstein, daun Sembukan dan fenomena Kangen Band ? Jawabnya adalah musik. Seperti yang kita ketahui, bagi Nietzsche, tanpa musik hidup adalah suatu kekeliruan. Anehnya, bagi Einstein, semesta ini adalah musik. Partikel yang ada di semesta ini tidak bergerak dalam pola lingkaran atau statis ketika mereka berputar. Tapi bergerak seperti dawai gitar yang sedang dipetik. Orkestra terbesar adalah semesta.
Jangankan hidup dengan benar, seandainya semesta ini tidak bermusik maka tidak ada yang namanya kehidupan. Berlebihan ? Mungkin. Lalu apa hubungannya dengan daun Sembukan dan fenomena Kangen Band ? Daun Sembukan merupakan partikel – partikel yang secara dahsyat, luar biasa dan sophisticated berkumpul membentuk suatu tumbuhan yang baunya sangat busuk. Daun Sembukan sering dijadikan bahan lelucon untuk segala macam bau yang dikeluarkan oleh manusia. Secara asas kepatutan dan kenyamanan, kita patut dan terasa nyaman mencemooh daun Sembukan. Tapi ada juga yang suka mengkonsumsinya sebagai lalapan.
Begitu juga dengan Kangen Band and their ganks. Kita patut dan terasa nyaman untuk mencemooh cara bermusik mereka. Partikel – partikel yang bernama lirik, tehnik bermain, performa panggung, vokal, distorsi, gelombang frekuensi dan energi yang dihasilkan dan dikumpulkan oleh Kangen Band sangatlah busuk. Kita juga sering mendengar olok – olok yang rujukannya dari Kangen Band. Tapi ada juga, banyak malah, yang mengidolakan mereka.
Bagi kita yang berada di dunia teater dan sering bergumul dengan yang namanya “ proses “ tentu bisa untuk memahami proses penciptaan. Sebagai manusia, tidak ada yang sempurna dalam tahap awal penciptaan. Seiring dengan berjalannya waktu, hasil seni tersebut akan membaik dan bagus. Salah dua dari identitas teater epik - nya Bertold Brecht adalah ruang diskusi dan laboraturium. Jika saja ada cemoohan yang datang menghampiri, anggap saja itu angin perhatian. Lebih baik diperhatikan dengan cemoohan daripada diacuhkan sampai mati. Mbak I’enk pernah bilang, teruslah bernyanyi walau suaramu fals asal tetap terus ada apa yang namanya proses penciptaan.

MOHIK

oleh : Hendro Prabowo

Mohik is son of Gudhel, anaknya Gudhel. Pipinya tembem dan bibirnya suka ngowoh. Rambutnya njegrak tidak karuan, dari situlah dia mendapat julukan Mohik. Pada awalnya Mohik adalah bocah yang clingus. Tapi selepas slup – slupan rumah Manang, perkembangan Mohik sedikit berbeda. Dia bukan bocah clingus lagi. Pemberani dan penjelajah. Setiap sudut rumah dan perkarangannya yang baru sudah habis ia jelajahi dengan tiada bosan (tapi tetap dengan bibir yang ngowoh). Setiap bertemu dengan kawan – kawan orang tuanya, dia tidak pemalu lagi. Langsung nemplok dengan menggemaskan. Rupanya ia mulai mengenal emosi – emosi yang baru.

Sebagai seorang penjelajah, Mohik mempunyai sekondan. Anak tetangga yang seumuran dengan Mohik. Kemana – mana selalu berdua, bermain pun berdua. Siang itu pun dia sedang terlihat bermain dengan kameradnya di teras rumah. Sedangkan ayah ibunya sibuk meladeni dan becengkerama dengan para tamu. Seperti layaknya para penjual jaman dulu. Sesekali para orang tua melirik ke teras untuk mengawasi. Tiba – tiba kami dikejutkan dengan suara perkelahian di teras rumah. Rupanya Mohik tengah berkelahi dengan kameradnya. Mengejutkan memang, anak sak precil itu sudah bisa berkelahi. Rupanya mereka mulai mengenal emosi – emosi yang baru.

Segera saja Ibunya Mohik ingin melerai kedua anak itu. Tapi dicegah oleh Gudhel. “ Nanti nak berhenti sendiri “, begitu ujar Gudhel. Tentu saja perkelahian itu berhenti sendiri. Si anak tetangga a.k.a si sekondan a.k.a sang kamerad lari ke rumahnya sambil menangis. Mohik sendiri langsung nemplok Ibunya dengan mewek. Si Ibu langsung menenangkan Mohik. Para tamu cuma tersenyum. Bapaknya cuma nyengir. Agak khawatir juga melihat peristiwa itu dan menilik reputasi Gudhel dalam menjalankan Teater SOPO dulu.

Ketika ada anak buah yang sedang menghadapi permasalahan organisasi, Gudhel selalu memberi solusi yang menyesatkan. Setelah si anak buah berhasil keluar dari permasalahan, oleh Gudhel ia beri permasalahan baru dan solusi baru yang menyesatkan pula. Hingga anak buahnya bosan minta petunjuk pada dirinya. Jangan – jangan metode ini yang ia terapkan pada anaknya, si Mohik. Tapi tidak rupanya, Gudhel mrenahke mana yang salah dan benar pada Mohik. Kalau salah harus sadar akan kesalahan dan bertanggung jawab. Kalau benar harus dilabuhi sampai saat terakhir. Let them taste the sweet of blood shall they know the bitter of pain.

ABSURD

Gudhel saat ini sedang membangun sebuah warung makan kecil di perkarangan depan rumahnya yang baru di Manang. Agar suasana pedesaan di daerah sekitarnya menjadi lebih regeng, lebih ramai, begitu katanya saat ditanyai tentang alasan. Pembangunan warung sudah hampir selesai ketika kami berbincang sambil menikmati sore. Sore yang indah tentu saja. Bau persawahan yang khas. Suara cenggeret. Lanskap persawahan yang membentang luas. Ufuk barat seperti sedang dibakar merahnya matahari. Awan – awan kelabu seperti asap besar yang membumbung. Pecikan apinya membuat langit tertoreh oleh warna lembayung. Sedikit kebahagian di senja hari.

Tapi perasaan bahagia ini menjadi canggung ketika tema perbincangan kami adalah tentang para petani padi. Pola tanam yang salah kaprah. Harga yang terpaut jauh antara gabah dan beras. Kebijakan yang salah. Sistem pengijon. Bantuan mesin penggiling yang tak pernah sampai ke tangan petani tapi malah dimiliki oleh para pengijon. Bureaupathology yang akut. Pungli di jalanan. Sistem kios beras di pasar tradisional. Belum lagi tentang masalah antri. Petani padi adalah manusia antri. Membajak sawah dia antri. Antri benih. Antri pengairan. Antri pupuk. Antri segala macam.

Inikah perasaan absurd itu ? Bagi Albert Camus kebahagiaan dan absurditas adalah dua putra dari satu bumi. Keduanya tidak terpisahkan. Salah bila dikatakan bahwa kebahagiaan lahir dari penemuan absurd. Bisa juga terjadi bahwa perasaan absurd ditimbulkan oleh kebahagiaan. Itukah yang dirasakan oleh para petani padi ? Mungkinkah para petani padi merupakan gambaran dari sosok manusia absurd ?

Bagi Camus, aktor pada umumnya bukanlah manusia absurd. Melainkan manusia melalui jalan hidup absurd. Manusia absurd mulai pada saat manusia sehari – hari berhenti, ketika dia tidak lagi mengagumi sebuah permainan drama. Masuk dalam kehidupan – kehidupan itu, merasakannya dalam keanekaragamannya. Dia benar – benar memainkan hidup itu. Mungkinkah para petani adalah manusia absurd ? Berperan sebagai sang pemilik sekaligus budak. Manusia ekonomi dan manusia antri. Yang marjinal dan mayoritas. Petani sebagai manusia absurd atau tidak, selayaknya para aktor belajar kepada para petani.
ditulis oleh :
Hendro Prabowo

Penyaksi

oleh : Hendro Prabowo

Pada sebuah proses, seorang pelatih sengaja membiarkan para aktor untuk mengekspresikan bentuk kesenian mereka masing – masing sebebas - bebasnya. Sesi pertama latihan difokuskan per individu. Sesi kedua pada kelompok – kelompok kecil. Di sesi ketiga mereka membentuk satu kelompok besar. Tujuan dari latihan ini agar para aktor dapat berimajinasi sekreatif mungkin.
Si pelatih sudah berharap banyak pada para aktor. Bayangkan saja, sekelompok kecil seniman diperbolehkan melakukan apa pun yang mereka suka ! Tapi yang terjadi adalah latihan yang diliputi dengan kebingungan dan ketakutan, yang pada akhirnya membosankan. Yang mengejutkan adalah ternyata si pelatih juga dihinggapi rasa takut ketika memimpin latihan tersebut. Hal ini terjadi ketika salah seorang aktor memanjat pagar talud dan berteriak – teriak diatasnya. Si pelatih takut jika sang aktor sampai terjatuh dan ngglundhung ke bawah.
Latihan itu tidak saja menyadarkan para aktor, tapi juga si pelatih. Bahwa mereka terlalu lama hidup dalam dunia harmoni. Menurut Nietzsche senimanlah yang seharusnya sanggup hidup dalam alam disharmoni. Dialektika terus menerus. Proses kreatifitas tiada henti. Kegembiraan tiada tepi. Sedangkan para filsuf hanya cocok untuk hidup di alam harmoni. Penuh keteraturan yang njlimet dan menyesakkan.
Bagi si pelatih pribadi, rasanya musykil untuk tetap terus di jalan seni. Tapi rasanya juga ngaya – wara jika mengambil jalan harmoni. Dia lebih memilih untuk bergabung dengan kerumunan di utara Stasiun Purwosari itu. Jika senggang mereka menghabiskan sore dengan menyaksikan kereta yang lalu – lalang di stasi kecil itu. Sambil membawa anggota keluarga mereka yang masih kecil – kecil. Jika ada uang lebih, bakmi thoprak layak untuk dijadikan kudapan. Untuk si kecil, mainan kitiran dari plastik yang berbunyi ketika berputar. Celoteh – celoteh riang muncul ketika mulut – mulut kecil itu nyenggaki kereta yang lewat. Keretanya yang bagus, kencang lajunya. Masinis yang memainkan peluit kereta. Penumpang yang berpakaian indah. Dan ketika matahari sudah tertelan oleh cakrawala, mereka pulang sambil membawa kenangan tentang kereta – kereta yang lewat di stasi kecil itu.

Polynices

oleh : Hedro Prabowo
Tahun ini, bulan Agustus bertepatan dengan bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa. Bulan yang paling cocok untuk nyekar, berziarah. Di bulan Ruwah, orang – orang akan pergi berziarah, apa pun landasan filsafat dan etikanya, apa pun alasan dan motivasinya. Berziarah ke tempat – tempat suci, ke makam para orang tua , sanak saudara dan mereka, para sahabat yang mati muda.
Maka tak heran ketika suatu pagi seorang kawan mengajak berziarah. Ke sebuah makam di daerah Karanganyar. Makam yang sepi. Keharuan seperti menggantung di udara. Makam siapa ? “ Seorang yang mati di tahun 48 “, begitu jawabnya. Seperti makam di Kediri ? Seperti Polynices ? “ Ya, hampir seperti Polynices “, katanya.
Hampir seperti Polynices. Seorang tokoh dalam Antigone, sebuah tragedi Yunani karya Sophokles. Sebuah karya sastra yang mendekati kesempurnaan. Tersebutlah satu masa ketika Thebes ditinggal mati oleh Oedipus. Eteocles, sulung dari Oedipus lah yang menggantikan Oedipus. Eteocles ternyata memerintah Thebes dengan tangan besi. Adiknya, Polynices ingin menyingkirkan Eteocles. Kedua bersaudara ini kemudian berperang satu dengan yang lainnya dan sama – sama gugur. Kemudian naiklah Creon, saudara Oedipus, sebagai pengisi singgasana Thebes. Creon ingin mengangkat Eteocles sebagai pahlawan dan mengutuk Polynices sebagai pengkhianat. Seorang pengkhianat tak boleh dikuburkan, mayatnya tergeletak begitu saja habis dimakan binatang buas. Antigone, putri Oedipus, kemudian menguburkan jasad Polynices secara layak apa pun taruhannya, bahkan nyawanya sekalipun.
Hampir seperti Polynices. Sebab yang terbaring pada dinginnya makam di Karanganyar dan Kediri itu bermaksud tidak melawan kuasa yang tiran. Tetapi melawan amnese, kelupaan total terhadap cita – cita luhur berdirinya negara ini. Tak mengapa kalau pada akhirnya mereka dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Revolusi memang memakan anaknya sendiri.
Sebelum pulang, sebuah pertanyaan terlintas di benak. Apakah mereka bersedia mati jika mengetahui kalau saat ini, negeri yang mereka cintai ini, menjadi sarang penyakit ? Tak tahu. Tapi yang pasti, kawan, jangan lupa untuk membuat pengharapan dan berdoa pada malam tirakatan. Sebelum bubur merah dan putih dihidangkan, sebelum nasi liwet dimakan. “ ...untuk Indonesia yang lebih baik…“

Uwek Main Musik

oleh : Hendro Prabowo

Tanpa musik hidup merupakan suatu kekeliruan. Begitu tulis Nietzsche dalam Senjakala Berhala. Itu bisa berarti jika kita menginginkan kebenaran selalu melingkupi hidup kita, maka kita harus hidup dengan musik. Atau juga bisa berarti “ kekeliruan “ yang bernama “ hidup “ itu akan menjadi benar jika kita mengenal musik. Secara praksis Konfusius menulis bahwa musik dapat memberi pangaruh baik maupun buruk pada pikiran dan karakter seseorang, dan bahkan pada masyarakat secara keseluruhan.
Mungkin itulah yang ada di benak Uwek ketika dia memutuskan untuk bermain musik dalam pentas Teater SOPO. Lha bagaimana tidak ? Sak jeg jumbleg, manusia satu itu hanya pernah bermusik sekali. Dan yang dimainkannya adalah alat musik bernama “ bedug “. Fals lagi mainnya. Lha kok ini dia das ein, mak bedhunduk, tiba – tiba bermusik ria. Pasti alasannya penuh dipenuhi dengan landasan filsafat yang rumit seperti yang disebutkan di atas tadi. Lha wong Uwek itu termasuk manusia progesif je.
Tidak jelas juga posisi Uwek dalam kelompok musik ini sebagai apa. Apakah memegang alat musik tabuh ? Sekedar urun suara pating gemremeng ? Atau seperti yang dikatakan oleh koordinator musik, Uwek nyekel cagakan mik, memegang tiang penyangga microphone. Lha wong namanya proses menemukan, ya sak kecekele. Kalau hari ini bisanya cuma nyekel cagakan mik ya mbok biar.
Uwek memang ingin berproses menemukan kebenaran melalui bermusik. Kebenaran yang bagi kita semua mahal harganya. Dapatkah Uwek mendapatkan kebenaran dengan bermusik ? Siapkah dia dengan kebenaran yang akan menampakan wujudnya kemudian membuka selubungnya ?
Tapi dalam Sains Girang, Nietzsche juga berkata bahwa kebenaran adalah perempuan. Ada sosok perempuan menarik hati di sana. Wajahnya merupakan perpaduan antara cantik dan manis, muda, penuh semangat dan sedang berproses. Jangan – jangan, Uwek sedang mencari kebenaran tidak lewat musik tapi melalui sosok perempuan. Jangan – jangan….

Pertanyaan Tentang Cinta

oleh Hendro Prabowo

Bagaimana rasanya jatuh cinta di atas panggung teater ? Apakah rasanya sama dengan jatuh cinta di luar panggung, di dunia nyata ? Jika beda, dimana bedanya ? Bagaimana hukumnya, jika, aktor dan aktris yang berperan sebagai sepasang kekasih mempersonifikasi pasangan mereka masing - masing di dunia nyata terhadap lawan mainnya ? Artifisialkah cinta mereka ? Atau memang harus begitu ?

Di dunia teater sendiri, sama atau tidak, rasa cinta yang dialami oleh karakter didalamnya ? Sebelum mengenal Juliet, Romeo telah jatuh cinta dengan seorang wanita yang bernama Rosalina. Dunia Romeo seakan runtuh ketika Rosalina menolak cinta Romeo. Sepanjang siang Romeo selalu meratap dan pada malam – malam panjang yang melelahkan, dia masih terjaga dengan ratapannya yang pilu. Kemudian datang Mercutio, sahabatnya, yang menasehati Romeo dengan kata – kata bijak yang membuat Romeo dapat bangkit kembali. Selebihnya kita tahu bagaimana eloknya adegan balkon di rumah keluarga Capulet.

Samakah cintanya Romeo terhadap Rosalina dengan cintanya Romeo terhadap Juliet ? Atau dengan karakter – karakter lain, semisal Layla Majnun ? Begitu mengiris hati puisi – puisi yang diucapkan oleh Qays si Majnun kepada Layla. Semuanya hanya tentang cinta. Selebihnya kita tahu bagaimana menyedihkan adegan di atas kubur Layla.

Layla Majnun mati nglabuhi cinta mereka, begitu juga dengan Romeo dan Juliet. Kisah cinta mereka menjadi inspirasi selama berabad – abad setelah kehadiran mereka. Tapi mengapa para kritikus menggolongkan kisah dalam karya Syekh Nizami sebagai kisah cinta Ilahi ? Sedang kisah cinta William Shakespeare pada The Tragedy of Romeo and Juliet sebagai kisah cinta fana ? Lalu seperti apakah emosi yang membedakan antara cintanya Nizami dengan Shakespeare di atas panggung ? Mangga, silahkan pertanyaan – pertanyaan di atas direnungi. Mangga juga kalau pingin menjawab. Ini ada sepenggal kalimat dari Majnun kepada Layla pada pertemuan mereka yang terakhir :


Pergi dariku
Cintamu
telah mnjauhkan akalku
dari dirimu sendiri.
Suatu ketika aku memang bahagia melihatmu
tetapi sekarang
Aku kehilangan hasrat
terhadap segala sesuatu kecuali
Cinta.
31/07/2008

Lampu


Masih ingatkah kita pada perayaan 50 tahun republik tercinta ini merdeka ? Saat itu di pelosok negeri dipenuhi oleh kerlip ribuan lampu. Jalanan dipenuhi oleh warna – warni lampu dengan pelbagai macam ukuran dan pola. Ada rangkaian lampu kecil – kecil yang dililitkan pada sebatang bambu. Kemudian ditancapkan sepanjang jalan kampung. Tembok – tembok, kanopi rumah tak urung dipasangi lampu. Bahkan pohon – pohon besar pun tak luput dari hiasan tersebut.

Jalan protokol tentu saja tak luput dari kerlip lampu. Malah lebih banyak dan rumit polanya. Ada yang berpola bunga – bungaan, binatang dan manusia. Ada yang membentuk tulisan, bahkan lampu sokle dipasang di tengah kota. Seakan hendak menerangi angkasa yang gelap.
Saat itu, sejenak kita melupakan penderitaan diperintah di bawah rezim yang otoriter. Kita terhibur oleh pemandangan artifisial yang melenakan itu. Rakyat dari segala macam lapisan dan profesi berduyun – duyun memenuhi jalan protokol di malam hari hanya untuk menonton lampu. Lalu mereka pulang dengan wajah puas dan senyum yang mengembang.

Padahal saat itu harga – harga sudah mulai naik. Tingkah laku pejabat semakin memuakan. Segala bentuk represifitas kekuasaan sudah mendera kita. Tapi untuk sejenak, kita terpesona oleh lampu – lampu tersebut. Hanya sejenak memang, karena 3 tahun kemudian sang raja lengser. Melepaskan rantai yang semula mengikat kencang leher baron – baron. Kemudian para baron tersebut menjelma menjadi preman yang berkuasa di negeri ini.

Tapi sudahlah, di sini kita berbicara tentang lampu bukan tentang hubungan triangulasi negara, pengusaha dan preman. Kita berbicara tentang betapa hebatnya efek yang ditimbulkan oleh lampu – lampu tersebut. Dia bisa mempermainkan emosi dan membelokan nalar kita seperti contoh di atas. Tapi dia juga bisa menjadi terang di sudut – sudut yang gelap sehingga menekan angka kriminalitas.

Di dunia teater, efek yang ditimbulkan oleh lampu juga tidak akan jauh berbeda daripada dunia nyata. Dia bisa memainkan emosi para penonton, menstimulan karakter para aktor dan menambah greget setiap adegan. Singkatnya, lampu bisa membodohi penonton atau menerangi makna yang tersembunyi dalam setiap lakon. Semua berpulang dari anggota teater itu sendiri.


oleh : Hendro Prabowo
31 juli 2008

Imajinasi

oleh : Hendro Prabowo

Seorang kiai di Solo pernah memberikan nasihat yang cukup nyleneh kepada seorang kawan wartawan. Wartawan tersebut mempunyai dua orang anak, salah satunya sudah menginjak usia sekolah dasar. Nah, kiai tersebut menyarankan agar si wartawan memberikan latihan pre – memory kepada si anak tepat sebelum dia tidur. Si anak disuruh menceritakan kembali sebagian aktifitasnya. Kadang si anak disuruh bercerita tentang kejadian – kejadian sewaktu bersekolah di taman kanak – kanak di pagi hari. Kadang dia juga disuruh bercerita pengalaman – pengalaman menarik sewaktu bermain di sore hari.
Latihan pre – memory seperti itu sangat penting untuk pengembangan imajinasi si anak, demikian ujar sang kiai. Dengan imajinasi, anak dapat melakukan pengandaian yang bisa dia lakukan. Seandainya ikan peliharaannya tidak kelupaan dimakani, tentu ikan itu tidak akan mati. Seandainya dia jadi ikan, tentunya sengsara sekali menahan lapar. Sehingga sedikit rasa empati mulai muncul di diri anak tersebut. Bagi sang kiai yang bukan seorang pekerja teater, imajinasi ternyata penting sekali. Dengan imajinasi, oarng diajak untuk selalu melakukan telaah secara mendalam sebelum dia memutuskan sesuatu. Dan juga bukan dia seorang saja, tapi ada seorang filsuf bernama Hannah Arendt yang menganggap imajinasi itu penting.
Mari sejenak kita legalkan parsimony, penghematan berpikir, karena filsafat Hannah Arendt sangatlah dalam dan orisinil. Arendt melakukan pengamatan terhadap pengadilan Eichmann di Jerusalem dan pengadilan Frankfurt. Semua pengadilan tersebut berusaha untuk mengadili para penjahat rezim Nazi yang terlibat dalam genoicida terhadap bangsa Yahudi. Kesimpulan akhir dari Arendt sangat mencengangkan. Dalam banality of evil, Eichmann atau siapapun juga yang dengan enteng melakukan kejahatan tanpa rasa bersalah, bahkan dalam ukuran moral sangatlah biadab, di situ terlihat kenyataan orang yang tanpa pikiran ( thoughtless). Suatu kemalasan luar biasa untuk menggunakan akal yang seharusnya membuat orang berpikir, berimajinasi dan mampu mengambil keputusan untuk perkara – perkara yang dalam.
Nah, ternyata imajinasi penting sekali dalam berkehidupan. Mungkin bagi sebagian orang, latihan imajinasi yang dilakukan oleh kawan – kawan teater, adalah hal yang sia – sia. Bahkan para pelaku latihan imajinasi, sering dikira sebagai wong edan anyaran. Tapi jika diolah dengan baik, imajinasi dapat menuntun kita ke arah yang lebih baik.

Pertunjukan Teater : Antara Prosesi Onani dan Media Komunikasi


Oleh: Setyo Andi Saputro

Sebuah kejadian bisa dikatakan sebagai ‘peristiwa teater’ hanya jika melibatkan penyaji, tempat, dan penonton. Secara terbalik juga bisa disimpulkan, peristiwa ‘apapun’ yang melibatkan keberadaan tiga elemen tersebut, langsung bisa dikatakan sebagai sebuah ‘peristiwa teater’. Namun perlu digarisbawahi, bahwa yang akan dibahas disini lebih dikerucutkan pada salah satu peristiwa teater yang secara umum sudah kita akrabi, yaitu ‘pertunjukan teater di atas panggung’.

Seperti yang sudah disinggung di atas, ketiga faktor tersebut adalah hal mutlak yang harus ada (sebagai syarat untuk disebut sebagai peristiwa teater, termasuk pertunjukan teater). Namun bisa dikatakan, ketiganya bukanlah satu-satunya. Karena bagaimanapun ada hal-hal lain yang tak boleh dikesampingkan dalam proses penciptaan karya pertunjukan teater. Salah satunya adalah keberadaan ‘pesan’.

Bagaimanapun juga, pertunjukan teater bukanlah sekedar geliat tubuh dan ceracau para aktor yang tak mempunyai makna apa-apa. Pertunjukan teater (seharusnya) tak jauh beda dengan besi konduktor yang menjadi media penghantar panas. Namun apa jadinya jika sebuah pertunjukan teater hanya sekedar menjadi prosesi onani yang hanya memuaskan satu pihak (yaitu pihak penyaji) saja? Hal semacam inilah yang seringkali kita temukan di gedung-gedung pertunjukan. ‘Penonton’ yang seharusnya mempunyai hak sama untuk bisa mendapatkan sesuatu dari sebuah pertunjukan, kadangkala terlupakan oleh para kreator.

Betapa sering kita temui kelompok-kelompok teater yang terlalu sibuk mengeksplorasi sisi artistik, namun justru melupakan niat awal yang mendasari mereka untuk menggelar pertunjukan, yaitu ‘menyampaikan sebuah pesan’. Tak jarang sebuah pementasan yang ‘indah’ dari sisi artistik, dramaturgi, dan keaktoran, namun terlihat gagap dalam usaha ‘pengiriman pesan’. Padahal (dalam pertunjukan teater), keberadaan pesan seharusnya justru ditempatkan di atas elemen-elemen yang lain. Karena bagaimanapun, teater adalah sebuah media komunikasi. Dimana kreator (kelompok teater) mengemban tugas menyampaikan sebuah pesan kepada komunikan (penikmat).

Memang tak dapat disangkal, masalah sampai atau tidaknya sebuah pesan, tak semata tanggung jawab sang kreator. Frame of reference dan field of experience komunikan, juga mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan proses penangkapan pesan ini. Namun adalah sesuatu yang mustahil ketika kita ingin merubah / memperbaiki / memberi saran terhadap pola pikir audience yang sedemikian banyak. Yang masih (agak) mungkin dilakukan adalah memberi masukan untuk para kreator, agar mempertimbangkan ‘bagaimana cara menyampaikan pesan-pesan, sekaligus meminimalisir kemungkinan ‘kegagalan’ proses tersebut.

Lalu sebenarnya apa yang mendasari lahirnya hal semacam itu? Entahlah. Namun yang pasti, saat ini banyak seniman-seniman egois yang hanya mengejar kepuasan pribadi mereka sendiri, tanpa mempedulikan ‘hak penonton’ yang harusnya mereka penuhi. Sehingga yang terjadi pertunjukan teater tak lebih dari ajang curhat sang seniman tentang sebuah tema, yang tak mempunyai relevansi apapun dalam merubah situasi.

Hal semacam inilah yang (mungkin) menjadi kegelisahan Prita Kemal Gani. Pada pertengahan Januari lalu, Direktur salah satu sekolah komunikasi di Jakarta ini membidani kelahiran jurusan Performing Arts of Communication di lembaga yang dipimpinnya. Berbeda dengan jurusan teater di insitusi pendidikan seni semacam Institut Kesenian Jakarta atau Institut Seni Indonesia, jurusan di sekolah ini lebih mengedepankan ‘teater sebagai sebuah media komunikasi’. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa lembaga ini memang bukan sebuah institusi pendidikan seni, melainkan sekolah komunikasi.

Lalu apakah kelahiran teaterawan dari lembaga semacam ini akan merusak tatanan pertunjukan teater oleh ‘seniman teater murni’? Tentu saja tidak. Justru dengan adanya lembaga belajar (resmi) dengan metode semacam ini, sedikit banyak akan memberi sebuah sapuan warna lain dalam jagat perteateran negeri kita, dimana banyak diantaranya yang semakin mengesampingkan ‘sampai tidaknya sebuah suara’.
(Dengan catatan, jika memang ada hal yang ingin disuarakan.)

Semarang 15 Juni 2008

Matinya Seorang Aktor

Oleh: Setyo Andi Saputro

Bilakah seorang aktor bisa dikatakan ‘berhasil’? Merujuk pada hukum tak tertulis yang berlaku di kalangan teaterawan, ada sebuah cara sederhana yang bisa dijadikan indikator berhasil tidaknya seorang aktor. Indikator ini bisa diterapkan ketika pementasan sudah selesai digelar. Bilamana ketika (mantan) penonton masih mengenali sang aktor sebagai salah satu pemeran dalam pementasan, namun tidak ingat dengan karakter yang dibawakan, maka bisa diasumsikan bahwa aktor tersebut telah gagal. Karena aktor jenis ini, ternyata tak sanggup menjadi ‘sosok lain’ ketika di atas panggung. Begitu pula sebaliknya, ketika (mantan) penonton masih ingat benar dengan salah satu karakter dalam pertunjukan, namun tidak mengenali aktor yang memerankannya (meski penonton tersebut bertemu langsung dan berbicara dengan sang pemeran), bisa dikatakan aktor jenis ini adalah aktor yang berhasil. Karena dirinya benar-benar mereduksi segala sesuatu tentang dirinya, dan beralih rupa menjadi karakter tokoh yang diperankannya.

Metode penilaian semacam ini didasarkan pada makna dasar dari kata ‘aktor’ itu sendiri. Dimana kata aktor, berasal dari sebuah kosakata bahasa inggris ‘actor’ (turunan dari kata act yang artinya memainkan peran/berpura-pura). Dari pemahaman ini bisa disimpulkan bahwa seorang aktor; entah dalam pementasan teater maupun film; sebenarnya (dan mungkin juga seharusnya) adalah seseorang yang (hanya) berpura-pura memerankan seorang tokoh dalam naskah (yang tentu saja, bukan dirinya sendiri). Atau dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa seseorang yang tidak memerankan karakter lain selain dirinya (meliputi gesture, cara bicara, sikap, sifat, ekspresi muka, dsb) dalam sebuah pementasan, bukanlah seorang aktor sejati.

Namun rupanya teori semacam ini tidak serta merta dipahami semua orang, bahkan juga oleh mereka yang sekian lama berkecimpung di dunia seni peran. Seperti yang termuat dalam sebuah berita di situs Kompas.Com, dimana dikatakan bahwa saat ini casting pemain untuk film Ketika Cinta Bertasbih (diangkat dari novel berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy) sudah dimulai. Namun begitu konon ada sebuah perbedaan mendasar yang masing-masing diyakini oleh para juri yang terlibat dalam proses audisi tersebut. Yaitu perbedaan pendapat antara Didi Petet dan Neno Warisman. Bisa dikatakan keduanya adalah sedikit diantara aktor & aktris senior negeri ini, yang sebagian besar hidupnya dihambakan pada dunia akting.

Didi Petet yang notabene adalah aktor dari lingkungan akademis berpendapat, bahwa dalam proses audisi ini yang terpenting dan paling mutlak dipenuhi hanyalah satu hal, yaitu ‘kemampuan akting’. Namun pandangan itu berbeda dengan pemikiran Neno Warisman. Aktris yang juga seorang ustadzah ini mempunyai pemikiran, bahwa selain kemampuan akting para peserta audisi yang nantinya terpilih haruslah sosok yang mempunyai karakter mirip dengan tokoh yang nanti akan diperankan. Alasannya adalah karena film ini dikategorikan sebagai film dakwah. Dan karenanya, diharapkan aktor yang terlibat di dalamnya bisa merepresentasikan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita. Karena bagaimanapun, mereka nantinya diharapkan menjadi sosok panutan bagi para penonton yang mereka sasar. Dan jika disesuaikan dengan naskah film ini, bisa disimpulkan bahwa peserta audisi yang nanti terpilih (oleh Neno Warisman) adalah mereka yang agamis dan mempunyai karakter (asli) yang layak untuk dijadikan panutan.

Tepat titik inilah yang bisa dikatakan sebagai fase kematian seorang aktor. Dimana aktor tak lagi diharuskan berproses dalam usaha alih rupa menjadi sosok lain yang bukan dirinya, melainkan hanya diijinkan bertindak sebagai wayang sesuai karakter asli pribadinya. Jika hal ini yang terjadi, bukankah bisa dikatakan bahwa aktor telah mati?


Semarang 8 Juni 2008

Nona Kim

oleh : Hendro Prabowo

Bagi George W. Bush, wujud teror adalah Islam radikal. Bagi Osama bin Laden, wujud teror adalah Zionisme. Bagi Teater SOPO, wujud teror adalah Nona Kim. Nona Kim ? Bukankah ada banyak hal yang bisa menimbulkan rasa takut pada setiap anggota teater selain, siapa itu tadi, Nona Kim ? Seperti tidak adanya ijin pentas dari pihak yang berwenang. Atau tidak adanya dana untuk pentas. Hal – hal seperti itu jelas momok yang menakutkan dibandingkan dengan Nona Kim. Who the hell is Nona Kim ?
Dulu kala pernah ada anggota teater yang bernama Tholo. Mahkluk satu ini memang dilahirkan untuk ngawur, natural born ngawur. Suatu ketika, si Tholo ini kumat dalam hal pembuktian keeksistensian ngawurnya. Dengan cara apa ? Dengan cara membuka lebar – lebar pintu komunikasi dari dan ke dunia mahkluk halus. Dan tentu saja tempatnya di sekretariat Teater SOPO. Di mana lagi ? ( Begitu pikirnya kala itu ) Walhasil, singkat cerita, Tholo sekarang sudah sukses berada di Mbetawi sana. Dan di Gudang Teater SOPO juga sukses mempunyai penghuni tetap berwujud mahkluk halus yang mempunyai nama Nona Kim.
Seperti halnya Tholo, Nona Kim juga haus dalam pembuktian keeksistensian. Dia sering menampakan diri, membuat suara – suara seram, menebarkan aroma harum dan fenomena penampakan lainnya. Cuma bedanya kalau Tholo sukanya ngawur, Nona Kim lebih tertata. Nona Kim lebih suka mengeluarkan fenomena penampakannya hanya jika kreatifitas Cah SOPO lagi mandeg.
Ketika tak ada proses berkreatifitas di lingkungan sekretariat Teater SOPO, Nona Kim akan menampakan dirinya. Ketika kesunyian menghinggapi sekretariat, Nona Kim membuat suara seram. Ketika sekretariat hanya diisi oleh orang – orang yang melamun, Nona Kim menebarkan bau bunga Kanthil. Begitu seterusnya, tapi, Nona Kim tidak akan menampakkan wujudnya jika ada proses kreatifitas sekecil apa pun di lingkungan sekretariat.
Nona Kim memang bukan wujud hantu seperti kolor ijo, atau pun hantu – hantunya Goenawan Mohamad dalam “ Santeto – fobia .” Tapi lebih kepada petanda akan adanya kemiskinan kreatifitas di tubuh Teater SOPO. Dan seperti bagaimana laiknya sebuah tanda, dia boleh untuk ditafsirkan ulang.

Motivasi Marah : Ya… Marah

oleh : Hendro Prabowo

Suatu malam di sebuah warung susu sapi segar, Om Yan sedang marah – marah. Om Yan adalah pemilik bengkel Oge ( Oedoek Guedhi alias Moge ) terkenal di Kota Solo. Om Yan adalah orang yang sangat disiplin dalam menjalani hidupnya. Anak – anaknya sukses semua. Bahkan ada yang jadi direktur di sebuah perusahaan asing. Hidup Om Yan yang dulu keras, sekarang sudah more than lumayan. Tapi hebatnya Om Yan tetap hidup sederhana. Nah, malam itu Om Yan lagi marah – marah.
Marahnya tidak tanggung – tanggung, pakai acara misuh – misuh segala. Mulai dari sato iwen sampai pisuhan yang paling merendahkan martabat manusia keluar dari mulutnya. Dia marah terhadap segala hal yang tidak beres jalannya. Mulai dari pemerintahan sampai ke para pedagang. Dari masalah perburuhan hingga ke perpolitikan. Tapi ajaibnya, sambil marah dia tidak lupa terhadap hidangan didepannya.
Dengan intonasi suara yang kencang dan tinggi, raut muka yang kereng, dia memarahi pemerintahan yang tidak becus, anggota dewan yang korup, pedagang yang licik, demonstran bayaran, LSM provokator, mahasiswa malas. Kemudian jeda, mak lhep, sosis bakar itu masuk ke dalam mulutnya. Sambil mencucu karena mulut masih penuh makanan dia menyemprot salah satu pengunjung yang mulai merokok. Rokok adalah produk neo kolonialisme, kemudian dia marah terhadap penindasan buruh oleh pemodal, cengkraman modal asing, BUMN yang diobral, BBM naik tinggi, neo liberalisme, tanah air yang masih dijajah asing. Jeda, mak sruput, STMJ itu masuk dalam kerongkongannya.
Sambil mengusap sisa susu yang menghias kumisnya, dia melanjutkan marah – marahnya. Dan tentu saja dihiasi dengan kata – kata pisuhan. Tak seorangpun menanggapi amarah Om Yan. Para pengunjung warung tersebut sudah terlanjur takjub. Paling – paling cuma nyenggaki sebentar. Belum habis rasa takjub ini, Om Yan sudah pamit minta pulang. Lalu mak klepat, dia sudah mengayuh sepeda anginnya yang butut.
Ketika rasa takjub sudah reda, segera saja si pemilik warung ditanyai tentang motivasi marah dari Om Yan. Si pemilik warung cuma nyengir sambil berkata, “ Om Yan itu ya seperti itu. Sukanya marah – marah. Marahnya Om Yan kok pake motipasi. Marah, ya marah. “ We lha dalah, marah kok tidak pakai motivasi. Stanislavsky bisa bangkit dari kuburnya kalau mendengar itu. Marah kok nggak pake motivasi…

Tuhan, Teater & Tuhan Teater

Oleh : Setyo Andi Saputro


‘Tuhan’ hanyalah proyeksi buatan manusia, ungkap filsuf Jerman Ludwig Feuerbach. Yang menjadi pertanyaan lanjutan, mengapa manusia harus menciptakan proyeksi semacam ini? ‘Keterasingan jiwa manusia’, ungkap Marx. Pada hakekatnya, ketika manusia menyimpan sebuah kehampaan akibat keterasingan dalam dirinya, dia akan membutuhkan sebuah ruang untuk mengaktualisasikan diri. Ruang ini berguna sebagai sebuah lintasan tempat ‘berlari’ dari rumitnya realita kehidupan yang dihadapi.

Jika pandangan Marx ini disetujui, mungkin kita akan bisa sedikit menelaah cara hidup beberapa seniman (dalam hal ini seniman teater) yang sedemikian ‘cinta mati’ terhadap dunia yang satu ini. Memang ketika kita berbicara tentang logika, pilihan hidup segelintir orang yang berkecimpung di ‘jagat perteateran’ ini agak sulit diterima oleh nalar. (Terutama mereka yang benar-benar ‘berteater’, dan tidak termasuk para mahasiswa yang sekedar ‘mengisi waktu’ dengan bergulat dengan teater kampus). Bagaimana bisa diterima akal, ketika mereka; manusia-manusia ini; bersedia merelakan waktu, tenaga dan biaya untuk menghidupi dunia yang (untuk di Indonesia) kecil kemungkinan memberikan ‘imbalan’ seperti halnya bidang-bidang lain yang terhidupkan di kultur hedonis semacam ini? Bagi mereka, ‘teater’ sudah menjelma menjadi semacam agama.

Sebuah pengabdian, begitu beberapa orang mengatakan. Jalan hidup, begitu ungkap yang lain. Namun apapun sebenarnya itu, jika kita menggunakan teori Marx di atas, kita akan langsung bisa mengetahui alasan apa sebenarnya yang membuat beberapa manusia bersedia ‘menuhankan’ bidang yang satu ini. Mereka menjadikan teater sebagai sebuah lintasan untuk berlari, setelah sebelumnya, mereka terlalu penat akibat terus-terusan terbungkam oleh jeruji kehidupan yang tak terkalahkan.

‘Lalu apakah jawaban ini sudah menjadi sesuatu yang mutlak benar?’. Tentu saja tidak. ‘Apakah tak mungkin teori ini hanyalah sekedar ungkapan ngawur bin konyol yang salah kaprah?’. Tentu saja (teramat) mungkin. Karena filsafat; seperti halnya cabang-cabang ilmu lain; pada hakekatnya hanyalah kumpulan teori yang berusaha menjabarkan pemikiran manusia, merubah pola menjadi angka, serta menjabarkan ide dalam kata-kata. Sementara yang ‘pasti benar’, hanyalah satu. Yaitu, keberadaan berbagai kemungkinan ‘jawaban’, yang hanya dimengerti oleh masing-masing obyek yang sedang kita bicarakan saat ini. Dan karena hanya dimengerti oleh mereka, tentu saja kita tak bisa memperbincangkannya. Karena bagaimanapun, kita bukan mereka. Setidaknya saya, entah jika anda.


Semarang, 29 Mei 2008

Bikin - Bikin

oleh : Hendro Prabowo


“ Bikin – bikin “ adalah term dari sebuah event pentas rutin tahunan Teater SOPO yang mengeksplorasi sisi keaktoran, artistik dan pengorganisasian teater untuk kemudian dipresentasikan ke dalam wujud berbagai macam pentas. Karena mengedepankan kata “ eksplorasi “ itu tadi maka “ Bikin – bikin “ bisa berlangsung lebih dari satu hari. Yang per harinya bisa ada dua sampai empat pertunjukan.

Tempatnya pun tidak terikat hanya pada satu ruangan saja, tapi bisa di luar ruangan atau berpindah tempat. Begitu juga dengan personil. Jika pementasan pertama seorang anggota menjadi aktor utama, hari kedua dia bisa menjadi pemegang alat musik. Atau menjaga parkiran. Pada intinya “ Bikin – bikin “ adalah keriuhan Teater SOPO.

Tapi apakah hanya itu saja maksud dari para orang tua dulu ketika membikin “ Bikin – bikin ? “ Setelah di – gothak – gathuk entuk, “ Bikin – bikin “ ternyata agak nyrempet ke teater eksperimental – nya Bertolt Brecht, teater epik. Paling tidak nyrempet pada efek yang ditimbulkan. Yaitu efek pengasingan.

Efek pengasingan dalam teater epik Brecht bertujuan untuk mengasingkan penonton dari pertunjukan, sehingga mencegah timbulnya perasaan terbawa emosi dari penonton yang mematikan daya kritis. Penonton pun tetap sadar bagaimana karakter dan peristiwa – peristiwa dalam pertunjukan teater tersebut.

Efek pengasingan menyajikan sebuah pengalaman yang sudah akrab dalam kemasan yang tidak akrab sehingga penonton masih dapat memikirkan tindakan – tindakan dan kejadian – kejadian yang sepertinya alamiah ternyata by design oleh para personil teater. Ini kebalikan dari teater borjuis yang disuguhkan dengan baik oleh para sineas – sineas kita khususnya sineas opera sabun.

Teater borjuis berusaha untuk memanipulasi tindakan – tindakan dan kejadian – kejadian yang sama sekali aneh, mengemasnya dalam ilusi realitas, dan mencekoknya pada penonton yang pasif. Ingat kasus Lely Sagita yang mulutnya dikruwes oleh penonton pertunjukannya ? Nah, peng – kruwesan tadi adalah efek yang ditimbulkan oleh teater borjuis, efek pembodohan.
Dengan demikian, teater epik bukanlah ladang penyemaian fantasi penonton, melainkan lebih merupakan arena yang dihasilkan dari persilangan antara laboratorium, arena sirkus, aula musik, gelanggang olah raga dan ruang diskusi.

Jujur dan Bahagia

oleh : Hendro Prabowo

Nano Riantiarno dedengkot Teater Koma tersebut pernah berujar bahwa tujuan akhir dalam berteater adalah jujur dan bahagia. Lha, bagi kami menungso biasa, mengus – mengus kebak dosa ( sesuatu yang bernapas dan penuh dosa ), jujur dan bahagia itu sangat sulit sekali untuk dilakukan. Bahkan dikhayalkan pun sulit. Jangan – jangan Mas Nano itu sudah putus asa terhadap teater…Tapi setelah dipikirkan bener – bener, apa yang menjadi tujuan berteater tersebut bukan mustahil untuk dicapai. Sulit memang, tapi tidak mustahil.

Sering kita dengar peribahasa barat “ Sad but True .” Katakan dengan jujur walau itu sangat menyakitkan. Peribahasa yang hanya berisi tiga kata tapi mengandung berjuta implikasi dan sarat dengan makna. Tapi sad but true itu sebenarnya mudah dilakukan. Ada banyak situs yang berisi nasihat untuk terus berkata dan bertindak dengan jujur tanpa mengundang implikasi – implikasi yang menyakitkan.

Begitu pula dengan kebahagiaan. Kebahagiaan itu sesuatu rasa yang sangat relatif. Persis dengan tesisnya Einstein, ruang dan waktu relatif, even time doesn’t exist. Kebahagiaan itu relatif. Kebahagiaan itu mulur – mungkret. Tidak ada ukuran pasti dengan kebahagiaan. Kebahagiaan seorang konglomerat lain sekali dengan kebahagiaan seorang PNS. Memang kebahagiaan sering menemukan kehakikian dan kemurniannya seperti yang kerap terjadi di Kalkuta, City Of Joy. Tapi ukuran pasti kebahagiaan ? Kebahagiaan itu mulur – mungkret.
Menjadi insan kamil yang jujur ? Pasti bisa ! Menjadi insan kamil yang selalu bahagia ? Pasti bisa ! Menjadi insan kamil yang jujur dan bahagia ? Pasti…Ya…Seperti tulisan di atas. Sulit tapi bukannya tidak mungkin.

Menemukan

oleh : Gondrong

Bagi yang pernah berkelindan dalam proses teater pasti sering mendengar kata “ mencari “, “ dicari “ atau “ digoleki “ dalam bahasa Jawa. Kata itu sering diucapkan oleh, entah, sutradara, penulis naskah atau si penata artistik. Sang sutradara, misalnya, menyuruh si aktor untuk mencari emosi yang tepat bagi karakternya atau gerak tubuh yang pas dengan dialog. Maka si aktor tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari persis seperti apa yang diinginkan oleh sang sutradara. Jika apa yang dicari oleh si aktor dan sutradara tak jua terpenuhi, maka yang tersisa adalah beban. Banyak juga para aktor itu akhirnya mendapatkan apa yang dicari setelah pementasan usai. Hal itu membuat mereka sangat kecewa.

Dalam satu sisi, apa yang dilakukan oleh para aktor itu persis dengan apa yang dilakukan Siddharta dalam romannya Herman Hesse. Siddharta selalu mencari dan mencari dalam hidupnya. Suatu saat dia berhenti dengan pencariannya, dan berkata, “ Jika seorang mencari, dia hanya akan melihat hal – hal yang dia cari. Dia tidak dapat menemukan dan menyerap hal – hal di luar yang dia cari. Dia mencari, karena dia hendak mengejar suatu tujuan. Dan hanya tujuan itu yang terus membayang – bayangi hidupnya. “

Mencari itu lain dengan menemukan. Mencari membuat orang terikat, karena dia harus selalu mengejar sesuatu. Sedang menemukan membuat orang bebas dan menerima, karena dia tidak dikejar – kejar untuk meraih sesuatu. Hanya dengan bebas dan menerima, orang bisa merasakan pelbagai anugerah yang tiap hari datang menghampirinya dengan berlimpah – limpah.

Dalam proses berteater kita seringkali tidak merasakan apa yang sebenarnya kita temukan dalam proses mencari tersebut. Kerap kali apa yang kita temukan tersebut mengandung nilai yang berharga dan bermakna, tapi kita mengacuhkan begitu saja. Itu semua terjadi karena tuntutan skenario atau sutradara demi suksesnya sebuah pementasan. Seusai pentas, akhirnya, apa yang dirasakan oleh para aktor adalah perasaan lega bukan buatan. Beban mereka seperti terangkat bersamaan dengan usainya sebuah pementasan. Karena mereka sudah terpenjara oleh proses berteater itu. Proses yang menekankan hanya kepada kata “ mencari .”

Uwek Saba Kafe

oleh : Hendro Prabowo

Uwek itu nama parapan dari seorang teman. Dari dulu sampai sekarang dia masih aktif berteater, walaupun dia sudah bekerja di percetakan besar di Solo. Dia masuk ke kampus Kentingan tahun 1998 tapi umurnya sudah tua betul. Lebih tua dari siapapun yang lagi aktif di Teater SOPO kala itu. Belum lagi wajahnya yang klasik, cara bicara dan gestur tubuhnya pun klasik. Semakin menunjukan kalau dia itu tuwo.

Akhir – akhir ini Uwek itu keranjingan masuk kafe. Kafe di sini tidak seperti kafe jaman dulu menurut fungsinya. Dulu, kafe didirikan untuk mat – matan minum kopi di senja hari sambil mandangin lukisan atau hasil seni lainnya. Di tempat itu para pengunjung, yang kebanyakan dari struktur intelektual, berbicara tentang berbagai hal berat dalam bungkus ringan.

Sedangkan kafe di sini sudah tentu tidak seperti itu. Kita semua tentunya sudah mafhum akan hal itu. Wong jamannya sudah lain. Tapi kafe yang dikunjungi oleh Uwek bukanlah kafe ruwet. Di mana isinya cuma musik yang disetel keras –keras sama aroma alkohol. Kafe yang dikunjungi Uwek adalah kafe kebanyakan. Yang kebanyakan pengunjungnya adalah eksekutif muda dan para ABG.

Pada awalnya, membayangkan Uwek dalam casing klasik keluar masuk kafe yang isinya ABG itu rak absurd to ? Gek apa yang dilakukan sama yang dicari oleh orang itu? Kan teater itu sangat kental dengan proses pencariannya. Mencari sesuatu yang murni dan hakiki. Mosok ya o ada yang hakiki di kafe itu ? Gek – gek Uwek itu lagi cari jodo ABG ya ?

Tapi Walter Benjamin berkata lain. Tokoh aliran kritis tersebut “ memasukkan “ Uwek ke dalam kategori manusia progresif. Manusia yang menonton film, masuk ke dalam keramaian kota, bekerja dengan mesin dan berkesenian. Manusia yang penuh dengan pengalaman – pengalaman kejutan yang menelanjangi objek dan pengalaman dari auranya.

“ Kejutan “ merupakan salah satu kunci dari estetika Benjamin. Kehidupan urban modern dicirikan dengan benturan – benturan sensasi yang fragmenter dan berubah – ubah. Baginya kenyataan ini bukan sebagai tanda keterpecahan “ keutuhan “ manusia di bawah kapitalisme. Tapi lebih kepada basis bagi bentuk artistik yang lebih progesif. Dus, mari ditunggu kejutan lanjutan dari si Uwek ini.


jejaka malas tobat
by : dony setiyawan SOPO 09

hei..... apa kabar kamu?
dasar seorang anak yang malas, yang berdiri di pojok ruangan,
sambil menghirup asap yang di beli 800 perak di warung perempatan,

kelontang-kelantung tak tau arah, dari pada itu kaislah sekerincing uang dengan segala halal,,
entah itu berBuruh atau berWirausaha,, tapi doktrinlah di benak kalian dengan "go away haram"

hitunglah hari dan badget yang diperlukan, karena dengan perkiraan kita akan tahu kekurangan kebutuhan kita,,
save your money..
pikirkanlah masa depan
masa kejayaan, dan masa penikmatan hasil,,

Copyright © 2008 - Teater Sopo - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template