Temu Kangen 2 Dasawarsa Teater SOPO

20 Tahun bisa dibilang adalah durasi waktu yang lama. Dalam 20 tahun ini kami telah merengkuh berbagai macam kebahagiaan, kesenangan, canda tawa. Tapi tak hanya itu pula setiap kebahagiaan yang kami dapat pasti selalu diikuti oleh air mata, pengorbanan dan bahkan kegagalan. Itu semua terangkum menjadi satu dalam memori kami, kami yang berdiri di bawah bendera Teater SOPO. Kenangan-kenangan manis, pahit, getir, akan menjadi "memadat" menjadi sebuah kisah klasik bagi anak cucu kami, teman-teman baru kami, dan diharapkan dari cerita-cerita itu bisa memotivasi mereka untuk bergerak ke arah yang lebih baik.

2 Oktober 1991, adalah sebuah tanggal keramat bagi kami. Karena pada tanggal itu para founding fathers kami mendeklarasikan diri kami kembali setelah mengalami masa kevakuman. Dan secercah cahaya dari langit pun turun mengiringi langkah kami untuk maju menjadi sebuah teater yang di dalamnya tertuang kalimat bermakna "Kami Satu Dalam Perbedaan". Sehingga perbedaan-perbedaan yang ada baik identitas diri sampai idelisme bukanlah suatu halangan karena itu semua malah menjadi tantangan: bagaimana segala perbedaan itu bisa menjadikan kita melaju dan bersatu.

Kami telah melaju dan bersatu, setidaknya untuk saat ini dan beberapa masa ke depan tentunya. Berkenaan dengan itu pada tanggal 1 Oktober 2011 ini kami akan merayakan sebuah kebanggan dan kemenangan bagi kami, sebuah momen yang akan melekat erat di ingatan kami. Pada 1 Oktober 2011 kami akan membuat sebuah acara yang mana dari acara ini bisa menjadi wadah untuk mengenang kisah-kisah yang pernah dijalani, menjadi wadah untuk berinteraksi, berkomunikasi, bersosialisasi, bertukar pikiran dan menjadi sebuah catatan manis dalam periode panjang di bawah bendera Teater SOPO.

SALAM BUDAYA!

Secangkir Puisi Sebait Kopi 2011

"Ayo teman-teman, pilih pizza atau kebab atau burger sebagai hidangan waktu SPSK besok". Itulah pertanyaan yang terlontar dari teman-teman 2010 waktu mereka berdiskusi tentang makanan apa yang ingin disajikan kepada undangan pada waktu SPSK digelar. Jangan harap benda-benda tersebut bisa dijumpai pada Secangkir Puisi Sebait Kopi yang diselenggarakan pada Kamis, 12 Mei 2011 tersebut. Karena nampaknya teman-teman 2010 sudah pandai-pandai memainkan konotasi. Yang ada ternyata adalah "counter food", yaitu berupa jagung rebus dan singkong rebus. Diharapkan makanan tersebut bisa menemani kopi yang tersaji di malam itu. Tak apalah melestarikan makanan tradisional yang semakin tergerus pasaran dan peminatnya akibat ekspansi makanan asing.



Secangkir Puisi Sebait Kopi (SPSK) adalah salah satu acara tahunan yang diselenggarakan oleh Teater SOPO dimana susunan kepanitiaan diurusi oleh teman-teman baru. Pada tahun ini teman-teman 2010 yang menjadi panitianya. Kali ini mereka menetapkan dresscode untuk tiap-tiap angkatan. Misal angkatan 2009 memakai pakaian berwarna merah, 2008 biru, 2007 kuning, dan warna-warna lainnya yang menghiasi malam itu. SPSK tidak hanya teman-teman baru yang tampil, tapi juga insidental bagi masing-masing anggota. Tahun ini dibagi ke dalam beberapa sesi per angkatan. Dalam sambutan Pimpro SPSK yaitu Aji Setyawan, dia mengapresiasi terhadap kerja keras teman-teman 2010 yang telah bekerja keras untuk menyiapkan SPSK ini, dan dia juga berpesan untuk menjaga kekompakan.



Sesi pertama adalah teman-teman 2010 yang tampil. Mereka membawakan sebuah karya sendiri dengan sutradara Arif atau lebih dikenal sebagai Om Jin dengan judul "Dua Dalam Satu". Mereka mempersiapkan pementasan ini selama kurang lebih tujuh hari. Salut untuk mereka! "Dua Dalam Satu" yang mengadaptasi dari karya Kahlil Gibran yang berjudul "Dua Keinginan", menceritakan tentang seseorang yang menghadapi kematiannya tapi pada akhirnya ia bisa melawan kematian tersebut karena dia mempunyai kuasa. Menarik melihat teman-teman 2010 bermain di ranah surealis, karena biasanya cerita-cerita cair yang kerap dibawakan, kali ini teman-teman yang datang harus memutar otak berkali-kali untuk mendapatkan inti cerita yang disampaikan.





Dan selanjutnya setelah teman-teman 2010 tampil, MC masuk dan mereka mengundi siapa yang tampil berikutnya. Dan ternyata yang tampil setelah teman-teman 2010 adalah teman-teman 2008. Cukup dua orang saja, yaitu Intan dan Tyok (karena anak 2008 yang hadir pada saat itu hanya Intan dan Tyok). Dengan disorot lampu berwarna biru mereka membawakan sebuah puisi. Menyenangkan melihat mereka tampil.



Malam yang dingin ditambah singkong rebus, jagung rebus, kopi dan penampilan selanjutnya dari anak-anak 2009 menjadi pelipur lara dari kedinginan pada saat itu. Setelah ditunjuk oleh MC untuk maju, mereka terasa bingung, apalagi dengan memasukkan setting tangga dan tali yang ternyata adalah simbolisasi. Sudah terkonsep sepertinya tapi masih saja bingung. Inisiatif untuk memainkan music perkusi menjadi “solusi” ditambah dengan pembacaan puisi oleh Abi dan Dony. Jojo juga membuat “keonaran” ala dia dengan membuat teman-teman lain tertawa.





Penampilan selanjutnya adalah dari alumni. Cukup dengan gitar dan jimbe yang dimainkan oleh Mas Suryo dan Mas Eko, mereka sudah bisa menghipnotis teman-teman yang pada saat itu. Kami harus belajar banyak dari mereka. Menyanyikan lagu-lagu nostalgia, mereka sempat membawakan lagu dari Sio-Sio (sebuah grup music dengan personel dari Teater SOPO), lagu yang menjadi “hits” akhir-akhir ini di sekre yaitu “Goodbye”. Ketika lirik “pancen tresno kui ora kudu nduweni.Kui aku ngerti lan iso tak ngerteni” silakan Anda saksikan sendiri ada beberapa teman-teman kami yang pastinya hati mereka menangis dan merintih akibat masalah cinta yang mereka alami setelah mendengarkan lirik tersebut. Tabahlah kawan! Dan Mas-Mas alumni juga sempat memusikalisasikan puisi dari anggota kami. Tanpa latihan, mereka bisa memusikalisasikan secara baik. Mas Wahid hadir pada saat itu dan dia membacakan curhatan yang tertuang dalam puisi karya dari Mas Eko. Puisi tersebut merupakan curhatan dari Mas Eko ketika dia menjabat sebagai Ketua Teater SOPO beberapa waktu yang lalu. Mas Kombor juga ikut berpartisipasi. Walaupun kondisinya masih kurang fit akibat radang tenggorokan yang ia derita, tapi ia tetap membacakan sebuah puisi hasil karya Rudyaso Febri. Momentum yang dinilai pas karena beberapa hari setelah itu, Mas Rudy melepas masa lajangnya dengan meminang seorang perempuan asal Jombang dan juga termasuk anggota Teater SOPO yaitu Mbak Didi. Dalam kesempatan kali itu Mas kombor juga mengucapkan selamat kepada calon pengantin tersebut. Puisi dari Mas Rudy dibaca secara khidmat oleh Mas Kombor.




2007 dengan pakain kuning-kuning tampil pada saat itu. Awan, Jupe dan Wury adalah tiga orang yang menjadi actor pada malam itu. Cukup lama persiapan mereka di backstage, nampaknya mereka membicarakan strategi apa yang akan digunakan. Awan masuk, kami kira dia akan menari, tapi menari kenapa memakai helm? Ternyata bukan, ia menjadi seorang anak sekolahan yang habis pulang sekolah. Monolog beberapa saat, lalu Wury masuk. Ia sempat berceloteh kenapa waktu ia main selalu menjadi ibu-ibu. Perbincangan ngalor ngidul akhirnya Wury menidurkan anaknya dengan cara membacakan puisi kepada anaknya. Puisi yang ia dapat dari hapenya. Setelah pembacaan selesai kekacauan terjadi, Jupe di backstage berseloroh, “Kapan aku mlebune?”. Hal itu membuat teman-teman tertawa. Dan akhirnya mereka saling cek-cok, udur-uduran sana-sani sebelum akhirnya Mas Gemphile masuk. Melihat Mas Gemphile hadir dan masuk panggung, mereka merasa tertolong oleh kehadiran Sang Dewa Penyelamat Pementasan. Dan akhirnya Mas Gemphile berinisiatif untuk melakukan “workshop” kecil-kecilan pembacaan puisi. Pada waktu dulu Mas Gemphile adalah seorang juara pembacaan puisi. Dengan mengajarkan cara-cara pembacaan judul puisi yang harus tanpa ada penekanan dan intonasi sampai dengan penjiwaan isi puisi, Mas Gemphile coba ajarkan kepada ketiga muridnya yang nakal-nakal. Teman-teman tertawa ketika melihat aksi dari Awan, Jupe dan Wury ketika mereka diajari oleh Mas Gemphile. Dan workshop kecil-kecilan tersebut berakhir sudah.

Mas Ahong sebagai perwakilan 2006 mengajak personel grup vocal karokeannya yaitu Intan dan Cecak yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Chekout dan juga tak lupa mengajak dua anggota 2006 yang lain yaitu Mbak Novita “Nopek” dan Mbak Tiwi, dan juga tak lupa mengajak Sendronk Orchestra untuk mengiringi mereka menyanyikan sebuah lagu dari Sindentosca berjudul “Kepompong”. Mbak Tiwi seolah-olah menjadi konduktor orchestra. Memimpin para grup vocal dan pemusiknya. Dan sing along pun terjadi ketika lagu mencapai refrain. Karena lagu ini erat sekali dengan makna persahabatan mungkin ini yang menjadikan teman-teman ber-sing along.




Dan penampilan dari teman-teman 2006 merupakan klimaks dari acara SPSK tahun ini. Banyak makna yang dapat diserap dari acara ini. Terus berkarya kawan, jalan masih panjang terbentang, tetap semangat!

Karena KITA SATU DALAM PERBEDAAN

Foto SPSK 2011, click here: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1727767080682.2086212.1433582914

Kami Berkarya






Karena Hujan Tak Pernah Reda

Aku berjalan dalam kegelapan, kesunyian menjadi-jadi. Ku lihat setitik cahaya di ujung sana, di ujung jalan kota kecil ini.
Jauh ku terbayang sebuah tempat berlapiskan permata, aku menyapa.
Ku buka sebuah pintu besi yang kokoh tertutup, cahaya menyilaukan mataku, pedih dan haru. Lama ku bersarang di dalamnya. Lama ku berdiam. Tak terarah dalam kilaunya, sudah cukup ku pahami, sudah cukup ku abadikan.
Lelah ku juga menyebabkan tekanan, aku hanya membuka jendela, mereka menjerit. Namun sekilas ku lihat dari lubang itu, kebun terpampang hijau mendatar.
Aku benar-benar tak bisa diam, aku coba untuk berontak! Teriak! Aku lewat sebuah celah, aku lihat dunia ini, lebih bercahaya namun lebih berbahaya, namun aku tidak takut, aku keluar dan bermain, ya, hanya bermain.
Dan pagipun berubah menjadi senja, senja berganti menjadi malam. Di saat itu ku temukan cinta, lara dan rindu pada saat itu juga kusadari hujan tak pernah reda. Kau tidak perlu mengerti apa yang kupikir dan tulis. Kau hanya bisa membaca dan bertanya.

(Ditulis oleh: iyudkenyod)



Kita Terdiri Dari Berbagai Warna

Jalan ini terlalu panjang
Terlalu jauh jika harus kutempuh sendiri
Itulah mengapa aku memilih ikut gerbong ini
Di sinilah kita bertemu
Di sinilah kita berbagi
Di sinilah kita saling mengerti
Mencoba saling peduli
Meski selalu saja saling memaki
Lahir dengan akal yang sama
Tumbuh dengan kesempatan yang sama
Namun dirimu terlalu angkuh
Berlebih-lebihan
Kau mungkin terlalu terang menyalakan lampumu
Memang bagus mungkin,
Tapi itu terlalu menusuk mata, mataku!
Jika sanggup,
Ku remas saja lampumu supaya padam
Bukannya membatasi imajinasimu
Bukan juga menyalahkan kemampuanmu
Hanya sekadar mengingatkan
Satu warna tidak bisa disebut sebagai pelangi
Dan pelangi akan lebih indah,
Jika banyak warna bersatu
Sebutlah diri kita sebagai pelangi
Dan kau akan mengerti

(Ditulis oleh: iyudkenyod)




Anak-Anak

Aku harap
Aku adalah anak-anak
Yang bebas berekspresi
Tanpa peduli
Apa kata orang lain

Aku harap
AKu adalah anak-anak
Yang selalu jujuar
Dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan
Yang tidak munafik
Dan haus akan kebenaran

Aku harap
Aku adalah anak-anak
Yang dapat dengan mudah memaafkan
Dan menghapus kesalahannya sendiri
Apabila diberi kesempatan memperbaiki diri

Aku harap
AKu adalah anak-anak
Yang selalu ceria dan penuh tawa
Yang akan selalu memberi
Penghiburan diri
Pada temannya yang bersedih hati

Sayangnya,
Anak-anak adalah
Sosok yang kupendam
Dalam kuburan bernama kedewasaan

(Ditulis oleh: Budi "Write on Silence")



Terselubung

Saat membaca
Kau melihat tulisan
Tapi tidak dengan kertasnya

Saat bernyanyi
Kau keluarkan suara
Tapi tidak merasakan nada

Saat menulis
Kau tahu kalimat-kalimat terbentuk
Tapi tidak maknanya

Saat kehujanan
Kau tahu tubuhmu basah
Tapi kau tak merasakan
Sentuhan air

Saat bercermin
Kau melihat wajah
Tapi tidak melihat ekspresi

Saat menatap orang
Kau melihat tubuh
Tapi tidak dengan jiwanya

Dan,
Saat kau mendengar ceritaku
Kau tahu aku kesepian
Tapi kau tak tahu
Bahwa kau yang kubutuhkan

(Ditulis oleh: Budi "Write On Silence")




Ku Harap Kau Kertas

Aku harap
Kau adalah kertas
Yang bisa ku isi dengan puji-pujian
dan lagu-lagu keindahan
Tak perlu kugunakan
Bahasa kiasan
Untuk menggambarkan
Rasa cintaku padamu
Karena tak ada yang lebih indah
Untuk menggambarkan apa itu cinta
Selain dirimu
Yang terlihat di depan mata
Yang senantiasa memancarkan
Keindahan jiwa manusia
Lagipula,
Bukankah kertas itu putih?
Aku tak kan mau menodainya
Dengan kata yang tak jujur adanya

Aku harap
Kau adalah kertas
Yang rela kuberikan coretan
Sampai lembaranmu penuh
Yang tidak mungkin tega kugores
Dengan tulisan dan gambaran tanpa makna
Yang selalu rajin kulihat dan kubaca
Sehingga tak perlu kucari kertas lainnya
Untuk kutulisi dan kugoreskan tinta

Tapi,
kenyataan mengatakan
Bahwa kau menusia
Keaslian berbisik
Bahwa kau wanita sesungguhnya
Semua itu membuatku
Bahkan tak berani menjamahmu
Karena kau
Jauh lebih berharga dari kertas
Seandainya pun engkau itu kertas
Aku tak tahu
Apakah aku penulismu yang pantas

(Ditulis oleh: Budi)



Pergi Darimu

Ungkapkan masalah
lalu selesai
Keluarkan keluhan
lalu pergi
Mengapa sekarang kau berbasa-basi?
Merasa tak enak hati?
Mengapa baru saat ini?

Aku mendengar
lalu aku menghampiri
ketika kau memanggil
Tapi kau tak pernah hadir
bahkan ketika aku berteriak
Padahal
tak banyak inginku
Sekadar bercakap-cakap
atau hanya saling menatap
Walau hanya sekejap

Dulu,
Kau tak pernah tau
Sekarang,
Kau tau
Tapi tidak mau mengerti

Sebaiknya ku tinggalkan saja tempat ini
Supaya saat kau mencariku di sini
Aku sudah tak ada lagi

Sebaiknya aku berlari kencang
ke tanah yang lapang
Berharap tak kan lagi menoleh ke belakang
ke arahmu
Yang pernah membuatmu melayang

(Ditulis oleh: Budi)



Khayangan Khayalan

Hanya perasaan-perasaan
Yang berjalan beriringan teratur
Perlahan mempercepat langkah ketika itu
Berlari hingga tertinggal mereka

Logika

Logika-logika terbuang di belakang
Tercecer berserak
Serakah? Hak SERA
Mengalun tak berdering
Hanya berdengung di belakang

Belakang, belakang, belakang
Belakangan buta dan tuli
Belakangan lupa dan tuli
Belakangan mati

Mati semoga saja di syurga
Semoga hanya harapan-harapan
Harapan berharap-harap

PARAH

(Ditulis oleh: Dee Melawan Adat)



Senandung Resah

Hitam...Hitam...Hitam
Berkuasalah kegelapan
Iblis...Iblis...Iblis
Berkalung tulang
Bersemayam dalam jiwa pendusta

Kuku...Kuku...Kukumu
Terlalu erat mencengkeram nafas kami
Darah...Darah...Darah
Tertumpah dalam tanah tanah tak berdosa

Jiwa...Jiwa...Jiwa tenang
Berikan kami cahaya
Jiwa...Jiwa...Jiwa tenang
Sedikit saja berikan kami cahaya!!

(Ditulis oleh: FLYAWAY)

Karena Aku Kuasa:Praktika Karnivora


Aku datang dari dunia yang tak kau ketahui keberadaannya
Aku jauh berasal dari alam bawah sadarmu
Terlahir dari kebencian dan ketamakan
Nafsu membunuhku semakin besar, seiring taring tajamku yang mulai tumbuh

Aku adalah bencana, tak ada kabar baik untukmu
Tak ada emas, tak ada kejayaan, tak ada kepercayaan
Kau lihat tanduk emas di kepalaku?
Tak ada yang bisa menandinginya, karena aku adalah Kuasa!!

Aku lebih dari dewa kematian, lebih dari malaikat penjaga neraka
Karena aku adalah Kuasa!!

Kubiarkan hijau jadi arang, biru jadi debu
Kubiarkan panas membakarmu, kubiarkan dingin membekukanmu
Setiap rintihan air matamu tak mampu menghentikan derasnya hujan hari ini, sayang...
Karena aku adalah Kuasa!

Tunggulah hingga matahari terbit dari barat
Tunggulah hingga raungan kebencian dari langit terdengar lantang
Waktu itu kau akan tahu betapa tak berharga dan bodohnya dirimu

Aku 'kan berdiri di sini hingga ragamu mati
Karena aku adalah Kuasa dari dirimu.

(Ditulis oleh: FLYAWAY)

Yang Terbaca

PROSES PERTEMANAN
Aku terkurung sendirian. Ingin keluar tapi hati terlalu takut karena sosok manusiaku belum lengkap. Tapi karena begitu penasaran, kubuka pintu kurungan itu dan kulangkahkan kaki menuju dunia luar.

Di luar sini begitu banyak orang tapi mata mereka tak ada yang menatapku.
Entah apakah mereka buta atau karena sosokku yang benar-benar tak sempurna, aku juga tidak mengerti.

Ku kira mereka semua seperti itu.
Tak melihatku karena sosokku yang tak sempurna, sampai pada akhirnya ada seseorang yang tak hanya melihat tapi juga menghampiriku.
Sosok manusianya sempurna di mataku
Tapi seberapa pun lamanya kami bersama aku tak pernah bisa memiliki sosok sempurnanya.

Tapi dia membantuku membentuk sosok sempurnaku sendiri. Sayangnya kesempurnaan yang ia miliki malam membuatku tidak percaya diri.

Suatu ketika, saat kami sedang bercakap-cakap aku membicarakan apa yang ada di pikiranku tentang dia begitu pula sebaliknya.
Begitu banyak kata yang kami keluarkan sampai suatu ketika, di akhir perbincangan ia berkata
“Aku juga mengagumimu kawan dan ternyata aku sadar bahwa hal yang kubutuhkan ada pada dirimu.
Aku tak menyangka bahwa sosokku adalah sesuatu yang kau inginkan.
Kau merasa sosokku sempurna tapi aku merasa ketidaksempurnaanlah yang kubutuhkan ketika aku bersamamu.
Yang kau inginkan ada padaku dan yang kubutuhkan ada padamu jadi marilah kita berjalan di dunia luar ini dan saling melengkapi.”

Setelah itu kami berjalan menuju dunia luar yang lebih luas lagi dan aku merasa semua mata tertuju pada kami, symbol kesempurnaan dari sesuatu yang disebut
TEMAN

(Ditulis oleh: Budi “Write On Silence”)



AKU, ASAP, BARA API DAN KEHAMPAAN TANPA ARTI
Kepulan asap ini adalah saksi
Bara api yang semakin memerah ini penuh arti

Menemani secarik kertas tanpa arti
Hanya ada kau dan kehampaan ini

Ku tau engkau memiliki raga
Tapi engkau tidak mempunyai roh dan jiwa

Hanya kekosongan tanpa kiasan
Benar saja, kekosongan tanpa kiasan

Keringat, darah dan air mata…
Dulu?
Sekarang?
Masa depan?

Senyumku, doaku…
Untukmu jiwa-jiwa yang tertelan ludahmu sendiri
Untukmu roh-roh yang tak nampak lagi

Hanya ada aku, asap, bara api
Dan kehampaan ini, tanpa arti

(15-04-2011, Ditulis oleh: FLYAWAY)



Panjang adalah pendek yang kau tolak
Lama adalah singkat yang kau sangkal
Kesepian adalah keramaian
yang tak kau anggap
Ketakutan adalah keberanian
yang kau sembunyikan
kelemahan adalah kekuatan
yang tidak kau tunjukkan
Dan kamu adalah aku
yang terlihat setiap aku menatap cermin.

(Ditulis oleh: WRITE ON SILENCE)



LOVE STORY
Bagaimana kau hadir dalam hidupku?
Betapa aku diberkati, tapi sulit mempercayainya//
Kau muncul dalam kehidupan bagaikan bulan yang luar biasa
Dengan perlahan. Dengan lembut.//
Di bawah mentari musim salju, bagai melodi yang panas
Kau telah membelaiku, dan aku terperangkap
Dalam dirimu kedamaianku dan kau adalah hasratku//
Kenapa aku tak bertemu awal denganmu lebih awal?
Bagaimana kau hadir dalam hidupku?..
Dulu aku mempercayai bahwa Sang Pencipta merasa, tidak memerlukannya lagi//
Dan kemudian Dia telah menciptakan dirimu
Dan sekarang Dia telah memperlihatkannya padaku dalam seluruh keagunganNya//
Noda sebuah musij menyentuh hidupku
Aku bisa merasakan nada baru yang merasuki hidupku
Tapi aku masih tak bisa percaya
Betapa aku diberkati. I love U&pulanglah segera
Jawaban:
Jalan setapak, sungai berubah. Petir yang berkilau akan mengeluarkan perubahan. Bila perubahan itu menerpa noda kehidupan, irama hujan juga akan berubah. Dan suasan musim akan berubah, tapi aku akan selamanya sama terhadapmu seperti sekarang. Dalam pelukanmu bersamamu kekasihku.
Setiap saat dan selalu
Dan maaf aku telah mendahuluimu

(Ditulis oleh: Dony)



MEDAN LAGA
Angkat senjatamu, prajurit!!
Tembakkan senapanmu kalau kau sudah siap!
Kibarkan benderamu, kelak kau akan mati bersamanya
Nyanyikan lagu kebangsaan, supaya kau tahu tanah ini menyertaimu

Pandangla jauh di sana api telah bergelora
Musuh memang tak terlihat, tapi yakinlah mereka pasti akan mendekat
Kau dengar suara raungan mesin itu, senapan yang membabi-buta??
Mereka nyata… Mereka nyata!!!

Prajurit, janganlah kau takut, janganlah kau terlena
Karena jika kau takut atau terlena maka kau akan terluka
Percayalah pada dirimu sendiri, prajurit!!
Busungkan dada kalian, berjalanlah dengan tegap dan gagah

Bersiap-siaplah, prajurit!!
Karena ini adalah perang yang nyata!!

(11-04-2011, Ditulis oleh: FLYAWAY)



RAMAIKAN BILIK INI!!
Bilik ini kosong
Warnanya hitam
Kontras dengan dinding putih pucat
Yang berada di belakangnya
Yang membuat kekosongan makin terlihat jelas
Tapi mengapa seolah tak ada yang peduli?

Tak tergeraklah hati kita
Untuk mengisinya hanya dengan sebuah tulisan?
Ah, tak perlu indah
Bilik tak memerlukan hal itu
Malu dengan cemoohan orang?
Kalau begitu jangan dengarkan!
Toh bilik akan diam saja
Bilik ini membebaskan kita berkreasi

Mari kita ramaikan bilik ini
Tak perlu takut ataupun malu
Karena bilik ini netral dan bukan penilai

(Kamar kost, 30 Maret 2011, jam 01.55. Ditulis oleh: Budi SOPO 2010)



AKU DAN KERTAS
Aku tak pandai memilih kata
Aku tak pintar menulis yang kuras
Ke dalam selembar kertas
Dengan kata yang penuh kias
Seolah menyembunyikan maksud dari kata-kata yang kutulis sendiri?
Dan menyuruh kertas itu mencarinya
Kertas bukan tempatku bersembunyi
Sebaliknya, aku menunjukkan semuanya di sini
Karena kertas ini menerima semua yang kutulis
Temasuk coretan yang tak bermakna

Indah atau tidak menurut orang
Aku tidak peduli!
Karea aku menulis untuk meluapkan yag kuras dan kualami
Bukan semata-mata untuk dibaca dan dikagumi

(Kamar kost, 30 Maret 2011, jam 01.34. Ditulis oleh: Budi SOPO 2010)

Copyright © 2008 - Teater Sopo - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template