Teater SOPO nduwe gawe. Sebuah hajatan yang
berlangsung pada 23 April yang lalu ini menampilkan 3 pementasan: 2
pementasan drama dan 1 pementasan tari “spesial” sebagai opening act. Bertempat di Hutan FISIP,
hajatan tersebut bernama Bikin Bikin XIX.
The
Show
Penonton memadati venue. Sungguh, animo penonton yang
tinggi ini melebihi ekspektasi kami. Dari jatah 200 tiket presale, soldout dalam jangka waktu tiga hari. Karena animo
penonton yang tinggi, maka akhirnya kami memutuskan untuk menjual tiket pada
waktu Hari H-nya.
Pentas Bikin Bikin XIX dibuka
oleh penampilan sebuah grup bernama JKKT 408. JKKT merupakan singkatan dari
Jreng Koordinasi Kesenian Tradisional, sementara 408 adalah nama batalyon
infanteri yang bermarkas di Sragen, yang juga merupakan kota dari sang
penggagas JKKT 408: Agung Irawan. Anggota JKKT 408 adalah tujuh pria-pria SOPO
yang didandani seperti penari perempuan Jawa. Mereka memakai kemben, jarik, sanggul dan sampur.
Liar. Itulah kata yang pantas
untuk menggambarkan penampilan mereka. Setelah menari Gambyong, mereka menjadi
Reog, mereka berjoget dangdut, dan terakhir (dengan diiringi lagu Toxic dari Britney Spears), mereka
menarikan modern dance. Bisa
dibayangkan bagaimana reaksi penonton kala itu. Selain liar, kata yang tepat
untuk mendeskripsikan mereka adalah lagu dari Britney Spears yang mengiringi
mereka tampil: beracun!
 |
JKKT 408 sedang menggoyang panggung |
|
Karena pihak dekanat
berhalangan hadir, maka Bapak Herwindya Baskara (dosen komunikasi FISIP) ditunjuk
untuk memberikan kata sambutan. Beliau merupakan dosen yang selalu datang di
pementasan kami. Beliau mengaku senang dan selalu menikmati pementasan kami. Pendapat
beliau, Teater SOPO adalah teater kontemporer. Ini didasarkan pada pemilihan
naskah, jalan cerita, penggarapan, musik, selalu bisa menghadirkan sebuah
suasana dan mempunyai kemasan yang berbeda dibandingkan dengan teater-teater di
UNS. Beliau juga menaruh simpati kepada JKKT 408 karena mereka masih menjunjung
dan mau menampilkan sebuah local wisdom di era modern seperti ini.
Terimakasih, Pak Herwin. Hormat kami kepada Anda.
 |
Pak Herwin sedang memberikan sambutan |
|
Pentas pun dimulai. Pementasan
pertama berjudul “Suatu Hari di Bulan Januari” karya Joned Suryatmoko, pementasan
ini disutradarai oleh Heri Sandro. Pementasan ini menceritakan tentang sebuah
keluarga yang harmonis. Akan tetapi keharmonisan itu mendapat cobaan dari Yang
Maha Kuasa, dan menyebabkan terjadinya konflik antaranggota keluarga. Inti
cerita dari pementasan ini adalah bagaimana kita seharusnya menyikapi cobaan
dan permasalahan dengan kepala dingin dan hati lapang. Jangan menjadikan cobaan
dan permasalahan itu sebagai sebuah beban, namun jadikanlah itu sebagai tantangan
untuk bisa mengendalikannya.
 |
Suatu Hari di Bulan Januari |
Diawali dengan lagu Jalak Bukan Jablay yang dibawakan
seperti konser dangdut, pementasan “Maling”-pun dimulai. Pementasan ini
merupakan karya Auf Sahid (diadaptasi oleh Wondo), disutradarai oleh Wondo dan
Wury. Diceritakan, Desa Suka Makmur sedang digemparkan oleh adanya maling yang
mengambil barang-barang milik warga, dan bahkan uang kelurahanpun lenyap
digondol olehnya. Wargapun akhirnya bersatu untuk menangkap si maling, walaupun
sebelumnya saling tuduh antarwarga sempat terjadi.
 |
Maling |
Proses
Proses Bikin Bikin XIX dimulai
sejak Februari. Selama tiga bulan, kami berlatih dan berproses untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Baik dari output
kesenian, kelompok, maupun diri sendiri. Tema proses kali ini bertajuk “Dimensi
Aksi”, tema yang didasarkan dari semboyan Teater SOPO: kami satu dalam perbedaan.
Dalam sebuah kelompok pastilah terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan
itu akan membentuk dimensi-dimensi dalam kelompok tersebut, bisa positif dan bisa
juga negatif. Maka dalam proses kali ini kami mencoba untuk menyatukan
dimensi-dimensi tersebut, dan membentuk dimensi baru secara keselurahan dengan nama Teater SOPO. Aksi
dari dimensi ini adalah sebuah pementasan. Aksi di sini bukan hanya diartikan sebagai
pementasan, tapi juga diartikan sebagai tindakan/pola yang digunakan untuk
berproses demi mendapatkan hasil yang maksimal (dalam hal pementasan) dan berkualitas
(dalam hal berkelompok).
Jika parameter sukses sebuah
pementasan adalah penonton dan tepukan tangan, maka kami sudah berhasil meraihnya. Berbeda dengan
proses. Parameter sukses sebuah proses hanya dapat dijawab oleh waktu. Semoga
lingkaran ini masih tetap terjaga di proses selanjutnya.
Akhir kata, terimakasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu merealisasikan Pentas Bikin Bikin XIX. Respect!
Sampai berjumpa di Bikin Bikin XX dan pementasan Teater SOPO yang lain.
Salam budaya!
---------------------------------------------------------------------
Bikin Bikin XIX adalah:
Pimpro: Syaiful Riefai P.
Sekretaris: Dini Anggita, Nila Ardiana
Bendahara: Erlina
Publikasi, dokumentasi: Herawan Wahyu P., Linda Fitria C., Ichlassul Akbar
Sponsorship: Hendro Wicaksono
Sie konsumsi: Ivan Dhimas, Astri Nugraheni, Dini Anggita, Nuraini Wulan
Stage manager: Chika Aprilia
Setting: Danang Aveiro, Zannuar Setiadji
Lighting: Edy Haryono, Mustsyama Fitriawati
Musik: Reza Kurnia D., Inna Ramadhani, Astri Nugraheni, Dikha Pistiyanti R., Megananda., Herawan Wahyu P., Arie Fadjar N.
Make up&costum: Avella Dena M., Santoso
JKKT 408: Agung Irawan, Alief Pandu W., Herawan Wahyu P., Zannuar Setiadji, Hendro Wicaksono, Heriy Santoso, Arie Fadjar N.
"Suatu Hari di Bulan Januari"
Karya: Joned Suryatmoko
Sutradara: Heriy Santoso
Pemain: Syaiful Riefai P. (Ayah), Linda Fitria C. (Ibu), Ivan Dhimas (Bram), Avella Dena M. (Ema)
"Maling"
Karya: Auf Sahid (diadaptasi oleh Wondo)
Sutradara: Riswanda Wirayudha&Wury Febrianingrum
Pemain: Agung Nugroho (Pak Lurah), Fransisca Putri (Yu Tiwuk), Hendro Wicaksono (Parjo), Santoso (Maman), Chelsa Muwady (Bu Siregar), Putry Virgantary (Yu Surti), Dewi Gumelar (Yu Bety), Abirama Setiadi (Maling)